Kamis, 4 Juni 2026

Bandung Kejar Gelar Kota Literasi, Buku Sebagai "Healing" dan Fondasi Berpikir Kritis

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Senin, 26 Januari 2026 | 08:09 WIB


[Locusonline.co] Bandung — Dalam upaya mengukuhkan posisinya sebagai pusat intelektual nasional, Kota Bandung meluncurkan ambisi baru: menjadi Kota Literasi yang progresif. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan komitmen ini dalam acara BFC Talks di Perpustakaan Ajip Rosidi, Kamis (23/1) malam. Visi ini tidak hanya tentang memperbanyak buku, tetapi mentransformasi peran literasi menjadi alat penyembuhan (healing) dan penguat daya nalar kritis masyarakat.





“Kota Bandung harus jadi kota tempat pengembangan literasi. Kita sudah punya modal ekosistem yang sangat jadi, tinggal memastikan ekosistem ini tidak terbuang percuma,” tegas Farhan, merujuk pada keberadaan puluhan perguruan tinggi terbaik di Bandung.





Revolusi Peran Buku: Dari Pengetahuan ke "Healing"





Wali Kota Farhan memperkenalkan paradigma baru dalam memandang buku. Menurutnya, buku tidak lagi sekadar gudang pengetahuan, tetapi harus memiliki fungsi sosial yang nyata dan berdampak langsung pada kualitas hidup warga.





“Hal yang kita cari sekarang adalah pembuktian bahwa buku itu punya fungsi sosial… Salah satunya dengan menjadikan membaca buku atau membacakan cerita sebagai bagian dari healing trauma,” jelas Farhan.





Konsep bibliotherapy atau terapi dengan buku ini, yang biasa diterapkan di wilayah pascabencana, dinilai Farhan sangat relevan untuk Bandung. Ia menyoroti tingkat stres perkotaan yang tinggi dan melihat aktivitas membaca bersama atau storytelling dapat menjadi intervensi kesehatan mental komunitas yang efektif dan mudah diakses.





Untuk mewujudkan visi tersebut, Farhan memetakan tiga tanggung jawab utama Pemerintah Kota Bandung:






  1. Memori Kolektif: Memastikan buku berfungsi sebagai media penyimpanan memori kolektif dan sejarah Kota Bandung.




  2. Akses dan Ketersediaan: Menjamin ketersediaan serta aksesibilitas buku bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.




  3. Budaya Membaca: Secara konsisten mengajak dan membiasakan warga berinteraksi dengan buku, baik fisik maupun digital.





Ambisi Bandung hadir di tengah keprihatinan nasional yang disampaikan Ketua Komisi X DPR RI, Willy Aditya, yang juga hadir dalam forum. Willy menyatakan bahwa kondisi literasi Indonesia berada dalam situasi darurat, meski angka melek huruf mencapai 98%.


Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X