Jumat, 5 Juni 2026

Marhaen, Cipagalo: Menjaga Nyala Jejak Sejarah Bapak Marhaenisme di Jantung Bandung

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Kamis, 11 Desember 2025 | 07:53 WIB


[Locusonline.co, BANDUNG] – Di balik hiruk-pikuk perkembangan Kota Bandung, di Kelurahan Mengger, Kecamatan Bandung Kidul, tersimpan sebuah situs yang menjadi akar filosofi sosial terpenting bangsa Indonesia. Makam Ki Marhaen, petani sederhana asal Bandung yang menginspirasi Presiden Soekarno merumuskan konsep "Marhaenisme", hingga kini tetap hidup sebagai ruang ziarah, edukasi, dan pengingat akan jati diri bangsa.





Pertemuan yang Mengubah Wajah Pergerakan Nasional





Ki Marhaen, yang dihormati masyarakat setempat dengan panggilan akrab Ki Aen, adalah seorang petani penggarap yang ditemui Soekarno pada masa pergerakan nasional. Pertemuan bersejarah yang diyakini terjadi di Sawah Cibintiu (kini Jalan Mohammad Toha) itu bukan sekadar dialog biasa. Dari sosok petani miskin yang memiliki alat produksi sendiri (cangkul, bajak, dan sepetak sawah) namun tetap hidup sengsara, Soekarno menemukan personifikasi dari kaum tertindas di Indonesia. Ki Marhaen bukanlah proletar industri, melainkan "kaum marhaen"—rakyat kecil yang dimiskinkan oleh sistem.





Warisan Keluarga dan Silsilah yang Dijaga





Keberadaan jejak Ki Marhaen saat ini dapat dilacak berkat penjagaan keturunan dan masyarakat setempat. Di lokasi makamnya di Cipagalo, Akil dan Ait, cucu generasi keempat dan kelima Ki Marhaen, dengan penuh kebanggaan menceritakan silsilah keluarga.






“Ki Marhaen punya satu anak, tujuh cucu, dan kini tersisa tiga cucu yang masih hidup,” tutur Akil kepada tim redaksi.






Mereka mengungkapkan rasa syukur bahwa kakek buyutnya masih dikenang. Banyak warga dari berbagai penjuru Nusantara datang berziarah, mendoakan, dan belajar dari nisan sederhana yang menjadi simbol perjuangan.





Narasi Sejarah Lisan dari Tokoh Masyarakat





Kisah tentang Ki Marhaen juga hidup melalui penuturan tokoh masyarakat setempat. Kusnadi, Ketua RW 03 Kelurahan Mengger, mendapatkan cerita ini dari garis keluarganya yang merupakan penduduk asli.






“Mertua saya orang asli sini. Ia mengalami masa hidup saat Ki Marhaen masih ada, meski kala itu masih kecil,” ujar Kusnadi.


Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X