Editorial
LOCUSONLINE, GARUT – Pemerintah Kabupaten Garut kembali menggelar ritual tahunan yang di atas kertas selalu terdengar heroik: memperkuat integritas dan membangun budaya antikorupsi. Kali ini kemasannya lebih akademis karena berlangsung di Auditorium Prof. Aam Hamdani, Universitas Garut. Ada Bupati, ada jajaran Pemkab, ada KPK, dan tentu saja ada sumpah serapah penuh semangat untuk “melawan korupsi sampai ke akar-akarnya”.
Kalau saja korupsi betulan takut sama seminar, negeri ini sudah masuk jajaran negara paling bersih sedunia.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, tampil tegas menyampaikan bahwa integritas mesti dibangun lewat pemahaman mendasar tentang apa itu korupsi dan betapa mematikannya penyakit ini bagi pembangunan daerah. Pernyataan yang benar, logis, dan klasik karena memang selalu diulang dari tahun ke tahun oleh hampir semua kepala daerah.
Yang bikin menarik adalah bagaimana ia menekankan pentingnya mencegah korupsi “sejak dini di organisasi”. Pernyataan bagus, tapi publik sudah kenyang mendengar jargon antikorupsi yang mati di podium. Publik nunggu bukti, bukan leaflet.
Kehadiran KPK, diwakili oleh Dandi Rustandi, memang memberi bobot lebih pada acara ini. Bukan karena kata-kata motivatifnya, tapi karena KPK sendiri mengakui bahwa mereka memilih Garut di antara banyak daerah yang meminta sosialisasi.
Baca Juga : DBHP Purwakarta Disorot: KMP Ajukan Perlindungan ke LPSK, Desak KPK Bongkar Penyimpangan
Artinya simpel ada sesuatu di Garut yang harus dievaluasi lebih dekat. Mau disebut edukatif atau preventif, intinya KPK melihat daerah ini perlu disentuh langsung.
Dandi menjelaskan empat misi berbagi informasi, semangat, mimpi Indonesia bebas korupsi, dan peran dalam pemberantasannya. Empat hal yang kalau benar-benar diinternalisasi bisa jadi pondasi tangguh, tapi kalau hanya jadi kalimat indah di spanduk, ya percuma.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












