Kamis, 4 Juni 2026

Si Raja Duit BlackRock Ngincer Batu Bara Bakrie-Salim, BUMI Tembus Rp326! Sinyal 'Bencana' atau 'Bisnis Brilian' di Tengah Resesi?

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Sabtu, 13 Desember 2025 | 14:04 WIB


[Locusonline.co, New York/Jakarta] – Dalam sebuah langkah yang menarik perhatian pasar modal global dan memicu analisis beragam, raksasa manajemen aset dunia, BlackRock Inc., kembali memperbesar cengkeramannya di salah satu emiten batu bara terbesar Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Aksi akumulasi oleh pengelola aset senilai lebih dari US$ 10 triliun ini terjadi di tengah volatilitas harga komoditas dan tekanan global terhadap transisi energi.





Berdasarkan data Bloomberg hingga perdagangan Senin (8/12/2025), kepemilikan BlackRock pada saham BUMI membengkak menjadi 1,91 miliar saham, naik dari posisi akhir November yang sebesar 1,89 miliar saham. Pembelian inkremental terbaru tercatat 17.956 lembar pada hari Senin tersebut. BlackRock pertama kali masuk ke dalam struktur kepemilikan BUMI pada Maret 2024 dengan harga rata-rata Rp102 per saham.





Kinerja Saham yang Meledak: Faktor BlackRock atau Fundamental?





Aksi BlackRock ini seolah mendapat "pembenaran" dari performa saham BUMI yang luar biasa moncer. Hingga penutupan perdagangan Rabu (10/12/2025), saham BUMI meroket hampir 20% ke level Rp326 per saham. Secara bulanan, saham ini telah merangkak naik sekitar 131%, dan sejak awal tahun 2025 telah melesat lebih dari 176%.





Geliat tersebut juga tercermin dari likuiditas yang panas. Total nilai transaksi saham BUMI pada November 2025 mencapai Rp39,53 triliun—angka yang hampir empat kali lipat lebih tinggi dari Oktober (Rp10,50 triliun) dan tercatat sebagai transaksi bulanan tertinggi dalam satu dekade terakhir. Fenomena ini memicu spekulasi: apakah kenaikan ini murni didorong oleh minat investor global seperti BlackRock, atau ada sentimen fundamental yang lebih kuat?





Membaca Strategi BlackRock: Kontradiksi atau Kalkulasi?





Langkah BlackRock, yang juga dikenal dengan advokasi kuatnya melalui inisiatif ESG (Environmental, Social, and Governance), mengundang tafsir berlapis. Di satu sisi, firma ini aktif mendorong perusahaan portofolionya untuk bertransisi ke energi bersih. Di sisi lain, aksi akumulasinya di sektor batu bara seperti BUMI dianggap oleh beberapa pengamat sebagai "strategi hedging" atau investasi nilai (value investing) dalam siklus komoditas.





"BlackRock mengelola uang dalam skala triliunan dolar. Portofolionya pasti sangat terdiversifikasi. Posisi di BUMI bisa jadi adalah bagian dari strategi eksposur terukur terhadap aset komoditas yang dinilai undervalued tetapi memiliki prospek arus kas kuat dalam jangka pendek-menengah," kata Maya Sari, Kepala Riset di Capital Sekuritas Indonesia, kepada media ini.





Membedah Kinerja Keuangan BUMI





Di balik sorotan pasar, kinerja operasional BUMI menunjukkan ketahanan. Hingga September 2025, pendapatan perusahaan tumbuh 11,9% year-on-year (yoy) menjadi US$ 1,03 miliar. Yang lebih mengesankan, laba usaha (operating profit) melonjak 231,9% menjadi US$ 84,4 juta, berkat efisiensi biaya pokok pendapatan (naik 5,1%) dan disiplin pengelolaan beban usaha (naik 12,8%).


Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X