“Kami menyiapkan SDM usia produktif 18-40 tahun agar siap masuk sektor formal. Sementara usia 40 tahun ke atas diarahkan ke kegiatan produktif seperti membuat kue, roti, dan menjahit,” kata Rahany.
Ia berharap, ke depan dunia kerja bisa menempatkan penyandang disabilitas berdasarkan kemampuan, bukan keterbatasan.
Baca Juga : Sejarah Dirangkum, Bangsa Diringkas: Indonesia Cukup 10 Jilid untuk Ingat Masa Lalu?
Dari tingkat provinsi, perwakilan DPD PPDI Jawa Barat Aam Ridwan menyebut peringatan HDI sebagai momentum saling menguatkan. Ia mengajak penyandang disabilitas untuk membangun kepercayaan diri dan tidak mengubur potensi hanya karena kondisi fisik.
“Banyak di luar sana yang memiliki keterbatasan tapi tetap eksis dan berdaya. Itu bukti bahwa yang membatasi sering kali bukan tubuh, tapi cara pandang,” ujarnya.
Aam juga mengapresiasi dukungan Pemkab Garut dan PT PLN Indonesia Power Kamojang yang dinilai konsisten mendukung kegiatan PPDI.
Hal senada disampaikan Ketua DPC PPDI Kabupaten Garut, Ani Tresnawati. Ia berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya Pemkab Garut dan PT PLN Indonesia Power Kamojang yang rutin menjadi donatur peringatan HDI setiap tahun.
“Semoga rezeki yang diberikan menjadi jalan kebaikan, baik bagi perusahaan maupun pemerintah daerah dalam membangun Garut yang lebih inklusif,” katanya.
Menutup kegiatan, Ani berharap peringatan HDI tak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi titik awal keberlanjutan peran PPDI Kabupaten Garut dalam pembangunan daerah. Satirnya sederhana: inklusi bukan soal acara seremonial, tapi soal siapa yang benar-benar diberi kursi di ruang kerja, bukan hanya di aula.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












