Kamis, 4 Juni 2026

"Tidak Hanya Sedimentasi", Riset Ungkap Pemicu Banjir Cirebon Lebih Kompleks

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Rabu, 24 Desember 2025 | 13:30 WIB
foto: detikjabar
foto: detikjabar


[Locusonline.co, Cirebon] – Perubahan iklim dan kepadatan penduduk memperparah ancaman banjir di daerah Jawa Barat, termasuk Kabupaten Cirebon. Namun, ada faktor lain yang tak kalah penting: kondisi lingkungan.





Lembaga Penelitian Lingkungan Hidup menilai banjir yang terjadi di delapan kecamatan pada Selasa (23/12/2025), akibat limpasan beberapa sungai yang tidak mampu menampung debit air, harus dilihat dari kerusakan lingkungan di sekitarnya. "Banjir adalah bencana yang terjadi karena campur tangan manusia pada alam," kata Direktur Lembaga Penelitian Lingkungan Hidup, Fitria Ramadani, dalam wawancara eksklusif.





Menurut data yang ia lampirkan, sebanyak 40% wilayah Kabupaten Cirebon telah mengalami penurunan kualitas lingkungan yang signifikan dalam 10 tahun terakhir. Hulu sungai di Cirebon sudah sangat kritis akibat alih fungsi lahan. Selain itu, tutupan hutan yang menyusut drastis mengurangi daya serap air tanah. "Air hujan langsung menjadi limpasan permukaan, bukan lagi diserap," ujar Fitria.





Penyempitan Sungai dan Peningkatan Risiko





Saat banjir melanda, Wakil Bupati Cirebon Agus Kurniawan Budiman turun langsung memantau kondisi. Di beberapa titik, ia menemukan penyempitan badan sungai akibat sedimentasi dan perubahan alur. "Saya langsung berkoordinasi dengan BBWS dan melakukan monitoring di beberapa sungai yang berpotensi menyebabkan banjir," kata Agus.





Namun, menurut peneliti lingkungan, sedimentasi hanya satu bagian dari masalah. Penelitian mereka menunjukkan bahwa pembangunan di bantaran sungai dan pembuangan sampah ke aliran air berkontribusi besar pada penyempatan dan penyumbatan. Akibatnya, kapasitas tampung sungai menurun drastis.





Langkah Penanggulangan dan Kebutuhan Mitigasi Jangka Panjang





Pemkab Cirebon, bersama BBWS, telah bergerak cepat menangani keadaan darurat. Tim Dinas Sosial diterjunkan untuk membantu warga terdampak di 17 desa dan kelurahan. Langkah ini penting, namun tidak cukup untuk mencegah banjir di masa depan.





"Kami akan melakukan langkah secepatnya karena ini merupakan kejadian pertama banjir di Kecamatan Sumber," janji Wakil Bupati Agus. Namun, para ahli mendesak agar langkah tersebut tidak hanya berupa normalisasi sungai, tetapi juga restorasi ekosistem.


Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X