Kasus ini menambah daftar panjang persoalan wisata Garut, dari retribusi tak jelas, pengelolaan setengah matang, hingga minimnya pengawasan di lapangan. Pantai dijual sebagai destinasi unggulan, tapi sistem pengamanannya masih seperti bonus kalau ada, syukur; kalau tidak, evaluasi menyusul.
Di tengah gencarnya promosi wisata dan jargon “ramah wisatawan”, peristiwa di Pantai Santolo justru memperlihatkan wajah lain wisata dikelola, konflik dibebaskan, evaluasi dipending.
Pantai tetap indah, ombak tetap menggulung yang belum bergerak cepat, lagi-lagi, adalah birokrasi.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












