Baca Juga : Perda Diperketat di Ruang Rapat, Pelanggaran Dibiarkan, Kasus Alih Fungsi Lahan Menguap
Video tersebut kini menyebar luas setelah diunggah ulang di berbagai platform, dari Instagram hingga TikTok. Reaksi publik pun tak kalah deras dibanding lubang jalan yang ia keluhkan.
Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, merespons tegas insiden tersebut. Ia menyatakan kekecewaannya, mengingat kasus intimidasi terhadap warga bukan kali pertama terjadi.
“Menjadi pimpinan itu harus siap dikritik,” ujar Putri dalam keterangan resminya.
Putri memastikan Inspektorat Kabupaten Garut telah diterjunkan untuk mengaudit desa terkait, baik soal pembangunan yang dipersoalkan warga maupun kronologi kejadian versi kepala desa. Audit ini diharapkan bisa menjawab satu pertanyaan penting mana yang lebih sensitif, jalan rusak atau ego pejabat?
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, juga angkat suara. Ia mengingatkan pejabat publik agar tidak alergi kritik.
“Kalau ada warga mengkritik jalan rusak, drainase rusak, atau rumah rakyat miskin yang tidak terperhatikan, jangan dibalas dengan ancaman,” kata Dedi.
Dedi meminta para kepala desa melakukan introspeksi dan memperbaiki kinerja, bukan memperbanyak barisan pembela. Sebab, di negara demokrasi, kritik seharusnya dijawab dengan aspal, bukan amarah.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”













