[locusonline.co] Jakarta — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melanjutkan tren positifnya dengan menutup perdagangan Rabu (7/1/2026) di level rekor baru 8.944,80. Kenaikan tipis 0,13% atau 11,19 poin ini dipicu oleh ekspektasi kuat pelaku pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter oleh The Federal Reserve (The Fed) pada tahun ini, yang mendorong aliran modal ke pasar berkembang seperti Indonesia.
Penguatan IHSG terjadi di tengah pergerakan beragam bursa regional Asia, dan disertai dengan sinyal positif dari Bank Sentral China, menunjukkan ketahanan pasar modal domestik.
Pergerakan dan Analisis Pasar
IHSG bergerak di zona hijau sepanjang hari sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan. Indeks saham acuan lainnya, LQ45, mencatat kenaikan yang lebih signifikan sebesar 0,72% ke level 871,32.
Analis pasar memproyeksikan potensi IHSG untuk melanjutkan kenaikan pada perdagangan Kamis (8/1), dengan catatan dapat bertahan di atas level support 8.900. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang support 8.900-8.930 dan resistance 8.970-9.000 hari ini.
Aktivitas Perdagangan
- Nilai Transaksi: Rp 36,87 triliun
- Volume: 70,56 miliar lembar saham
- Frekuensi: 4,58 juta kali transaksi
- Aksi Asing: Net Buy investor asing senilai Rp 230 miliar di pasar reguler, di antaranya membeli saham ANTM, BBRI, INCO, ASII, dan TINS.
Performa Sektoral
Delapan dari sebelas sektor di BEI menguat pada hari Rabu. Berikut tiga sektor dengan kinerja terbaik dan terlemah:
| Sektor Terbaik | Kenaikan | Sektor Terlemah | Penurunan |
|---|---|---|---|
| Industri | +2.23% | Transportasi & Logistik | -1.03% |
| Barang Konsumen Non-Primer | +1.62% | Barang Konsumen Primer | -0.64% |
| Barang Baku | +0.92% | Teknologi | -0.32% |
Sentimen Global: Menanti Sinyal The Fed dan China
Sentimen pasar hari Rabu sangat didominasi oleh dinamika kebijakan moneter global:
- Amerika Serikat: Melemahnya data Purchasing Managers' Index (PMI) Jasa AS menjadi 52,5 (dari sebelumnya 52,9) memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertimbangkan pemangkasan suku bunga untuk mendukung ekonomi.
- China: Bank Sentral China memberikan sinyal positif mengenai kemungkinan pemotongan suku bunga dan rasio giro wajib (RRR) untuk menstabilkan pertumbuhan dan likuiditas.
Ekspektasi pelonggaran moneter The Fed ini bukan tanpa dasar. Risalah rapat The Fed Desember 2025 menunjukkan pintu untuk pemangkasan suku bunga lanjutan masih terbuka, meskipun besaran dan waktunya masih menjadi bahan perdebatan di kalangan pembuat kebijakan. Presiden Federal Reserve Bank of Philadelphia, Anna Paulson, bahkan menyatakan peluang untuk pemangkasan tambahan dalam skala moderat pada paruh akhir 2026, asalkan prospek ekonomi AS tetap kondusif.