Baca Juga : Sekolah Dipoles Sang Mentri Rp133 Miliar, Sistemnya Tetap Lulus Bersyarat
Sementara itu, Koordinator KKN Gradasi 2025, Gugun Geusan Akbar, menjelaskan bahwa program ini melibatkan mahasiswa di 25 desa dengan durasi pengabdian empat hingga enam bulan. Durasi yang dianggap lebih efektif dibanding KKN reguler, karena memberi waktu cukup bagi mahasiswa untuk meninggalkan dampak dan bagi desa untuk merasakan bedanya.
Namun Gugun juga mengingatkan, ke depan koordinasi antara perguruan tinggi dan Pemkab Garut perlu diperkuat. Sebab, pembangunan kolaboratif idealnya tidak hanya mengandalkan semangat mahasiswa, tetapi juga kebijakan dan dukungan yang konsisten dari pemerintah daerah.
Keberhasilan program salah satunya ditunjukkan Kelompok 10 di Desa Pangauban, Kecamatan Cisurupan. Ketua Kelompok, Furqon, mahasiswa Institut Teknologi Garut, menyebut tim lintas kampus ini menjalankan berbagai program strategis: dari penguatan kepemimpinan desa, administrasi, etika pelayanan publik, hingga digital marketing.
Capaian paling mencolok, Desa Pangauban berhasil meraih Juara Sri Baduga tingkat Provinsi Jawa Barat prestasi yang lahir dari kolaborasi mahasiswa dan desa, setidaknya selama masa KKN berlangsung.
Di akhir kegiatan, para mahasiswa menyampaikan sejumlah catatan evaluatif, terutama soal koordinasi kepanitiaan dan distribusi dukungan operasional. Meski demikian, mereka mengapresiasi sambutan hangat dari aparatur desa, karang taruna, dan masyarakat selama masa pengabdian.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









