Sejumlah warga menduga perubahan tutupan lahan di sekitar kawasan Papandayan menjadi salah satu pemicu. Pembukaan lahan, perluasan kebun, aktivitas wisata, hingga pembangunan di sekitar kawasan hutan diduga menggerus habitat alami satwa. Ketika hutan makin sempit, satwa tak lagi punya pilihan selain turun ke kampung bukan untuk wisata, tapi untuk bertahan hidup.
Ironinya, saat satwa liar masuk permukiman, yang disalahkan sering kali monyetnya. Padahal, ia hanya “mengikuti peta baru” hasil alih fungsi lahan yang dibuat manusia sendiri. Hutan dipotong, ruang hijau dipersempit, lalu manusia terkejut ketika alam datang menagih.
Kasus di Cisurupan ini menjadi potret kecil dampak kerusakan lingkungan yang nyata: konflik manusia dan satwa. Bukan cerita film dokumenter, tapi gigitan dan cakaran di tubuh warga.
Jika alih fungsi lahan terus dibiarkan tanpa kendali, monyet hari ini mungkin hanya pembuka. Besok, bisa jadi konflik dengan satwa lain menyusul. Gunung kehilangan hutan, kampung kehilangan rasa aman dan manusia kembali sibuk memasang jebakan, alih-alih menata ulang kebijakan lingkungan.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









