LOCUSONLINE, GARUT – Pergerakan tanah di Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, tak hanya menggeser bangunan, tetapi juga menggeser ruang belajar. Sejumlah rumah warga, fasilitas umum, hingga bangunan sekolah terdampak, memaksa kegiatan pendidikan pindah dari ruang kelas ke tenda darurat.
Menanggapi situasi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut memilih langkah yang dianggap paling aman dan prosedural: melakukan kajian. Untuk urusan tanah yang tak lagi patuh pada gravitasi, BPBD melibatkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) guna menilai tingkat kerawanan di Desa Bojong, Kecamatan Banjarwangi.
“Kita kaji dulu kondisi tanahnya oleh PVMBG,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Garut Aah Anwar Saefuloh, Jumat (16/1/2026), menegaskan bahwa sebelum keputusan besar diambil, laporan teknis harus lebih dulu rampung.
Menurut Aah, kajian ini bertujuan mengetahui potensi lanjutan pergerakan tanah sekaligus menentukan tingkat bahaya bagi bangunan di sekitarnya. Hasilnya nanti akan menjadi penentu nasib: apakah bangunan yang rusak masih bisa dibangun ulang atau harus direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Salah satu bangunan yang mengalami kerusakan cukup serius adalah Madrasah Ibtidaiah (MI) Darul Hikmah. Retakan pada dinding dan struktur bangunan dinilai membahayakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik. Sambil menunggu kesimpulan kajian, BPBD Garut menyediakan tenda darurat agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, meski dengan standar kenyamanan yang jauh dari kata ideal.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












