Dari sisi bank sentral, BI juga telah menyalurkan insentif kebijakan likuiditas makroprudensial sebesar Rp 397,9 triliun hingga pekan pertama Januari 2026. Insentif itu menyasar berbagai kelompok bank. Hasilnya? Belum cukup menggugah selera kredit.
“Bank-bank sebenarnya sudah punya pipeline pembiayaan. Tapi kalau mau menambah lagi, pertanyaannya sederhana, sektor mana yang siap menyerap, kalau demand-nya masih lemah?” ujar Solikin.
Karena itu, ia menilai dorongan dari sisi pasokan pembiayaan tidak bisa berjalan sendiri. Upaya tersebut harus seiring dengan penguatan sisi permintaan. Inilah yang membuat agenda debottlenecking dunia usaha mengurai hambatan struktural menjadi krusial.
Solikin menambahkan, isu tersebut kini juga menjadi perhatian utama dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
“Di KSSK, kita paham betul soal debottlenecking. Isu KSSK sekarang bukan cuma stabilitas dan ketahanan sistem keuangan, tapi bagaimana memastikan ekonomi mau bergerak,” ujarnya.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”











