Kamis, 4 Juni 2026

Bencana Bukan Kebetulan, Menteri LHK Ungkap Faktor yang Selama Ini Diabaikan

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Senin, 26 Januari 2026 | 11:27 WIB
generated by AI
generated by AI


[Locusonline.co] Kabupaten Bandung Barat — Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan komitmen pemerintah untuk mengusut bencana tanah longsor di Cisarua dengan pendekatan ilmiah yang teliti. Ia menyatakan akan segera menurunkan tim ahli khusus untuk melakukan kajian mendalam terhadap bentang alam pascabencana di Kampung Pasir Kuning dan Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu.





Langkah ini diambil agar penyebab bencana, yang hingga Senin (26/1) telah menimbun 30 rumah dan merenggut puluhan jiwa, tidak disimpulkan secara spekulatif—terutama terkait dugaan kuat alih fungsi lahan menjadi perkebunan sayuran subtropis.





“Masalah lingkungan tidak bisa ditangani dengan perkiraan. Semua harus berbasis sains,” tegas Hanif kepada wartawan seusai meninjau lokasi bencana pada Minggu (25/1).





“Kami akan membedah kondisi bentang alam ini secara sangat detail. Pendekatannya ilmiah dan komprehensif,” imbuhnya menegaskan bahwa kajian ini akan serupa dengan metodologi yang telah diterapkan dalam penanganan bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh Tamiang.





Dari Lereng Hutan ke Hamparan Sayur: Sorotan terhadap Perubahan Lahan





Berdasarkan peninjauan lapangan, Menteri Hanif menyoroti perubahan lanskap yang masif di area longsor. Kawasan yang seharusnya ditutupi vegetasi keras berakar kuat, kini telah bertransformasi menjadi hamparan perkebunan sayuran seperti kol, kubis, dan paprika.





Yang menarik perhatiannya, tanaman-tanaman hortikultura ini bukan merupakan flora asli Indonesia. “Tanaman ini secara alami tumbuh di ketinggian 800 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut,” ungkap Hanif, merujuk pada asal-usulnya di wilayah subtropis seperti Chile, Peru, dan Pegunungan Andes, Amerika Selatan.





Ia mengungkapkan bahwa tren budidaya sayuran subtropis di perbukitan Jawa Barat telah meningkat pesat, di mana pada 2025 skalanya belum sebesar saat ini.


Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X