“Jika pedagang terus bertahan dalam pola lama, justru mereka sendiri yang akan menanggung akibatnya. Pasar yang semrawut bukan magnet pembeli, melainkan alarm agar orang cepat berlalu yang ujungnya berimbas pada penurunan omzet.”
LOCUSONLINE, GARUT – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Garut, Ridwan Efendi, memastikan penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang Jalan Merdeka dan kawasan sekitarnya tidak berhenti di wacana. Prosesnya, kata dia, memang tidak instan lebih mirip diet panjang ketimbang operasi kilat.
Ridwan mengungkapkan, pemerintah daerah sudah berulang kali duduk satu meja dengan para pedagang melalui Ikatan Warga Pedagang (Iwapa). Tujuannya sederhana, menyamakan frekuensi, menurunkan tensi, dan mencari jalan tengah agar trotoar kembali berfungsi tanpa mematikan penghidupan PKL.
Ia menegaskan, secara umum para pedagang tidak menolak penataan. Namun, kesiapan tiap PKL berbeda-beda dan tidak bisa dipukul rata.
“Lokasi sudah kami tentukan, pemetaan dan pengukuran juga sudah beres. Contohnya PKL Pasar Guntur, itu sudah jelas petanya. Tinggal kemauan dan pemahaman pedagangnya,” ujar Ridwan, Jumat lalu.
Baca Juga : Pasar Guntur Disemprot Dana Rp1,4 Miliar, Becek Minggir Dulu
Menurutnya, jika pedagang terus bertahan dalam pola lama, justru mereka sendiri yang akan menanggung akibatnya. Pasar yang semrawut, kata dia, bukan magnet pembeli, melainkan alarm agar orang cepat berlalu yang ujungnya berimbas pada penurunan omzet.
Karena itu, Disperindag memilih pendekatan bertahap dengan kombinasi pendampingan. Bukan hanya soal membenahi lapak dan fasilitas, tetapi juga membangun kesadaran bahwa keteraturan adalah investasi jangka panjang bagi pedagang.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









