GARUT – Usaha jual beli jasa Bisnis internet yang mencakup pemasangan tiang, penggelaran kabel (infrastruktur), hingga penjualan layanan internet ke pelanggan disebut sebagai bisnis Internet Service Provider (ISP) atau Penyedia Jasa Internet (PJI).
Bisnis ini nampaknya memang menggiurkan. Terbukti, dari pusat kota bahkan ke pelosok-pelosok di daerah hingga ke perbukitan terdapat tiang-tiang internet yang berdiri menancap di pinggir-pinggir jalan. Sementara kabel internetnya nampak menari-nari karena tiupan angin seakan melambai kepada setiap orang yang melintas.
Tidak hanya itu, kabel-kabel juga sudah memasuki pemukiman warga. Perkampungan, komplek sampai perumahan bersubsidi pun sudah menganggap tiang dan kabel ini sebagai bagian dari keluarga. Jika tiang dan kabel ini tidak ada, maka internet akan sulit menjangkau kasur-kasur empuk yang digelar pengisi rumah. 
“Di zaman yang serba canggih, kebutuhan semakin banyak dan pelayanan dituntut harus serba cepat, maka internet menjadi salah satu solusinya. Warga kota maupun pedesaan sudah sangat bergantung pada internet. Satu menit tanpa internet, mungkin akan dianggap sebagai bencana. Maka, pada saat ini, internet sudah menjadi kebutuhan dasar setiap manusia,” ujar Asep Muhidin, S.H., M.H, salah satu dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Nusantara (STAINus) Kabupaten Garut kepada media, baru-baru ini.
Namun, terang Asep Muhidin, selain ada banyak nilai positif penggunaan fasilitas internet, banyak juga nilai negatifnya. salah satunya adalah rusaknya etetika, yang diakibatkan banyak tiang berdiri dan kabel-kabel yang dipasang diatas ruang. “Tiang besi berjejer di jalanan yang disertai kabel-kabel yang membentang di berbagai tepat menyebabkan Garut nampak semrwaut, jauh dari kata tertib, aman dan nyaman,” ungkapnya.

Trusted source for uncovering corruption scandal and local political drama in Indonesia, with a keen eye on Garut’s governance issues









