News

Di Garut Ada Tanaman yang Bisa Menghasilkan Emas, Cek Nama Kecamatannya Berikut Ini

redaksilocus
×

Di Garut Ada Tanaman yang Bisa Menghasilkan Emas, Cek Nama Kecamatannya Berikut Ini

Sebarkan artikel ini
GARUT - Beberapa kecamatan di Kabupaten Garut ternyata memiliki aneka tanaman yang bisa menyerap logam berat, termasuk logam mulia. Sebagai salah satu daerah di Negara Indonesia, warga Garut patut bersyukur, karena diatas tanah kelahirannya terdapat kekayaan alam yang sangat tinggi. Salah satu tanaman yang bisa menghasilkan emas diantaranya tanaman Akarwangi. Akarwangi memiliki kemampuan untuk menyerap logam mulia, karena tanaman yang satu ini bisa melakukan ekstraksi atau kemampuan biologis untuk menyerap, mengangkut, dan mengakumulasi logam (baik logam berat berbahaya maupun logam bernilai ekonomis) dari dalam tanah atau air melalui sistem akarnya, lalu menyimpannya dalam jaringan tubuh mereka (batang, daun, akar). Kepala Dinas Pertanian dan Hortikulutura Kabupaten Garut, Haeruman mengatakan, Kabupaten Garut merupakan daerah yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Sebagai wilayah yang ditetapkan sebagai daerah konservasi, Garut memiliki beragam jenis tanaman, diantaranya Akarwangi. “Sejumlah wilayah kecamatan yang diperuntukan Akarwangi adalah Kecamatan Bayongbong, Cilawu, Samarang dan Leles,” ujarnya, Rabu (28/01/2026). Prof. Hamim Sebutkan Nama-Nama Tanaman Penghasil Emas di Indonesia Dikutip dari mediaindonesia.com, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Profesor Hamim menyatakan, Indonesia ternyata memiliki tanaman yang dapat menghasilkan emas. Logam mulia tersebut dapat diekstrak dari tanaman yang mampu menyerap logam berat, termasuk logam mulia. Hamim menjelaskan, tumbuhan memiliki mekanisme fisiologis yang memungkinkan untuk dapat menyerap logam berat dari lingkungannya. Tumbuhan ini dapat digunakan sebagai agen pembersih lingkungan yang dikenal sebagai fitoremediasi. “Beberapa jenis tumbuhan dapat menyerap logam berat dalam jumlah besar di dalam jaringannya, disebut tumbuhan hiperakumulator. Selain bisa dimanfaatkan dalam fitoremediasi, tumbuhan ini juga bisa digunakan untuk menambang logam yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti nikel, perak, emas, platinum dan talium atau suatu kegiatan yang dikenal sebagai fitomining,” kata dia dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (23/11/2021) lalu. Ia menyatakan, tumbuhan hiperakumulator biasanya banyak ditemukan di wilayah dengan kandungan logam tinggi misalnya tanah serpentine dan ultramafic. Indonesia sendiri termasuk negara dengan lahan ultramafic terbesar di dunia yang meliputi wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga ke Papua. “Namun potensi tumbuhan hiperakumulator di daerah ini belum tergali secara optimal, sehingga perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak sehingga potensinya bisa digali dan dimanfaatkan untuk tujuan fitoremediasi dan fitomining,” jelasnya. Menurutnya, selain tumbuhan hiperakumulator yang hidup di wilayah ultramafic, beberapa jenis tumbuhan penghasil minyak nonpangan (nonedible oil) seperti jarak pagar (Jatropha curcas), jarak kastor (Ricinus communis), mindi (Melia azedarach) dan kemiri sunan (Reutealis trisperma) serta tanaman aromatic (penghasil minyak atsiri) seperti vetiver (Vetiveria zizanioides) atau akar wangi juga berpotensi besar untuk digunakan sebagai agen fitoremediasi maupun fitomining. “Hasil percobaan membuktikan bahwa jenis-jenis tumbuhan tersebut mampu bertahan tumbuh pada media cair mengandung Pb dan Hg serta pada media tailing tambang emas. Di antara keempat spesies penghasil minyak nonpangan yang digunakan, Kemiri sunan (R. trisperma) termasuk yang paling tahan terhadap perlakuan dengan logam berat dan tailing tambang emas,” tuturnya. Ia mengatakan bahwa beberapa tumbuhan di seputar tambang emas juga bisa menjadi alternatif sumber genetik bagi tumbuhan hiperakumulator logam emas. Hasil eksplorasi tumbuhan di seputar tailing dam pertambangan emas PT Antam UBPE Pongkor diketahui bahwa hampir semua jenis tumbuhan yang tumbuh di sana punya kemampuan mengakumulasi emas meskipun pada kadar yang masih rendah. “Kelompok bayam-bayaman (Amaranthus) yang tumbuh di seputar tailing, memiliki kemampuan akumulasi emas yang paling tinggi, namun karena biomassanya rendah sehingga potensi fitominingnya tergolong rendah. Tumbuhan lembang (Typha angustifolia) juga cukup tinggi dalam mengakumulasi logam emas (Au). Typha bisa menghasilkan 5-7 gram emas per hektare. Ini tentunya memerlukan ekplorasi yang lebih jauh,” tandasnya. Sementara itu, dalam percobaan yang dilakukannya, pemanfaatan cendawan endofit berseptat gelap (Dark Septate Endophyte) dan cendawan mikoriza terbukti dapat membantu tumbuhan dalam beradapatasi pada lingkungan tercemar logam berat. Cendawan ini dapat membantu program fitoremediasi. “Penggunaan senyawa ammonium tiosianat (NH4SCN) sebagai ligan pelarut emas juga dapat meningkatkan penyerapan emas oleh tanaman dan meningkatkan biomassa tanaman. Ini potensi yang baik untuk program fitomining pada tailing tambang emas,” pungkas Hamim. (asep ahmad)
GARUT - Beberapa kecamatan di Kabupaten Garut ternyata memiliki aneka tanaman yang bisa menyerap logam berat, termasuk logam mulia. Sebagai salah satu daerah di Negara Indonesia, warga Garut patut bersyukur, karena diatas tanah kelahirannya terdapat kekayaan alam yang sangat tinggi.Salah satu tanaman yang bisa menghasilkan emas diantaranya tanaman Akarwangi. Akarwangi memiliki kemampuan untuk menyerap logam mulia, karena tanaman yang satu ini bisa melakukan ekstraksi atau kemampuan biologis untuk menyerap, mengangkut, dan mengakumulasi logam (baik logam berat berbahaya maupun logam bernilai ekonomis) dari dalam tanah atau air melalui sistem akarnya, lalu menyimpannya dalam jaringan tubuh mereka (batang, daun, akar).Kepala Dinas Pertanian dan Hortikulutura Kabupaten Garut, Haeruman mengatakan, Kabupaten Garut merupakan daerah yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Sebagai wilayah yang ditetapkan sebagai daerah konservasi, Garut memiliki beragam jenis tanaman, diantaranya Akarwangi. “Sejumlah wilayah kecamatan yang diperuntukan Akarwangi adalah Kecamatan Bayongbong, Cilawu, Samarang dan Leles,” ujarnya, Rabu (28/01/2026).Prof. Hamim Sebutkan Nama-Nama Tanaman Penghasil Emas di IndonesiaDikutip dari mediaindonesia.com, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Profesor Hamim menyatakan, Indonesia ternyata memiliki tanaman yang dapat menghasilkan emas. Logam mulia tersebut dapat diekstrak dari tanaman yang mampu menyerap logam berat, termasuk logam mulia.Hamim menjelaskan, tumbuhan memiliki mekanisme fisiologis yang memungkinkan untuk dapat menyerap logam berat dari lingkungannya. Tumbuhan ini dapat digunakan sebagai agen pembersih lingkungan yang dikenal sebagai fitoremediasi.“Beberapa jenis tumbuhan dapat menyerap logam berat dalam jumlah besar di dalam jaringannya, disebut tumbuhan hiperakumulator. Selain bisa dimanfaatkan dalam fitoremediasi, tumbuhan ini juga bisa digunakan untuk menambang logam yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti nikel, perak, emas, platinum dan talium atau suatu kegiatan yang dikenal sebagai fitomining,” kata dia dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa (23/11/2021) lalu.Ia menyatakan, tumbuhan hiperakumulator biasanya banyak ditemukan di wilayah dengan kandungan logam tinggi misalnya tanah serpentine dan ultramafic. Indonesia sendiri termasuk negara dengan lahan ultramafic terbesar di dunia yang meliputi wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga ke Papua.“Namun potensi tumbuhan hiperakumulator di daerah ini belum tergali secara optimal, sehingga perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak sehingga potensinya bisa digali dan dimanfaatkan untuk tujuan fitoremediasi dan fitomining,” jelasnya.Menurutnya, selain tumbuhan hiperakumulator yang hidup di wilayah ultramafic, beberapa jenis tumbuhan penghasil minyak nonpangan (nonedible oil) seperti jarak pagar (Jatropha curcas), jarak kastor (Ricinus communis), mindi (Melia azedarach) dan kemiri sunan (Reutealis trisperma) serta tanaman aromatic (penghasil minyak atsiri) seperti vetiver (Vetiveria zizanioides) atau akar wangi juga berpotensi besar untuk digunakan sebagai agen fitoremediasi maupun fitomining.“Hasil percobaan membuktikan bahwa jenis-jenis tumbuhan tersebut mampu bertahan tumbuh pada media cair mengandung Pb dan Hg serta pada media tailing tambang emas. Di antara keempat spesies penghasil minyak nonpangan yang digunakan, Kemiri sunan (R. trisperma) termasuk yang paling tahan terhadap perlakuan dengan logam berat dan tailing tambang emas,” tuturnya.Ia mengatakan bahwa beberapa tumbuhan di seputar tambang emas juga bisa menjadi alternatif sumber genetik bagi tumbuhan hiperakumulator logam emas. Hasil eksplorasi tumbuhan di seputar tailing dam pertambangan emas PT Antam UBPE Pongkor diketahui bahwa hampir semua jenis tumbuhan yang tumbuh di sana punya kemampuan mengakumulasi emas meskipun pada kadar yang masih rendah.“Kelompok bayam-bayaman (Amaranthus) yang tumbuh di seputar tailing, memiliki kemampuan akumulasi emas yang paling tinggi, namun karena biomassanya rendah sehingga potensi fitominingnya tergolong rendah. Tumbuhan lembang (Typha angustifolia) juga cukup tinggi dalam mengakumulasi logam emas (Au). Typha bisa menghasilkan 5-7 gram emas per hektare. Ini tentunya memerlukan ekplorasi yang lebih jauh,” tandasnya.Sementara itu, dalam percobaan yang dilakukannya, pemanfaatan cendawan endofit berseptat gelap (Dark Septate Endophyte) dan cendawan mikoriza terbukti dapat membantu tumbuhan dalam beradapatasi pada lingkungan tercemar logam berat. Cendawan ini dapat membantu program fitoremediasi.“Penggunaan senyawa ammonium tiosianat (NH4SCN) sebagai ligan pelarut emas juga dapat meningkatkan penyerapan emas oleh tanaman dan meningkatkan biomassa tanaman. Ini potensi yang baik untuk program fitomining pada tailing tambang emas,” pungkas Hamim. (asep ahmad)

GARUT – Beberapa kecamatan di Kabupaten Garut ternyata memiliki aneka tanaman yang bisa menyerap logam berat, termasuk logam mulia. Sebagai salah satu daerah di Negara Indonesia, warga Garut patut bersyukur, karena diatas tanah kelahirannya terdapat kekayaan alam yang sangat tinggi.

Salah satu tanaman yang bisa menghasilkan emas diantaranya tanaman Akarwangi. Akarwangi memiliki kemampuan untuk menyerap logam mulia, karena tanaman yang satu ini bisa melakukan ekstraksi atau kemampuan biologis untuk menyerap, mengangkut, dan mengakumulasi logam (baik logam berat berbahaya maupun logam bernilai ekonomis) dari dalam tanah atau air melalui sistem akarnya, lalu menyimpannya dalam jaringan tubuh mereka (batang, daun, akar).

tempat.co
Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Jl. Pembangunan No. 83 Kecamatan Tarogong Kidul. (ft: asep ahmad)

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Haeruman mengatakan, Kabupaten Garut merupakan daerah yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Sebagai wilayah yang ditetapkan sebagai daerah konservasi, Garut memiliki beragam jenis tanaman, diantaranya Akarwangi. “Sejumlah wilayah kecamatan yang diperuntukan Akarwangi adalah Kecamatan Bayongbong, Cilawu, Samarang dan Leles,” ujarnya, Rabu (28/01/2026).

Prof. Hamim Sebutkan Nama-Nama Tanaman Penghasil Emas di Indonesia

Dikutip dari mediaindonesia.com, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Profesor Hamim menyatakan, Indonesia ternyata memiliki tanaman yang dapat menghasilkan emas. Logam mulia tersebut dapat diekstrak dari tanaman yang mampu menyerap logam berat, termasuk logam mulia.

Hamim menjelaskan, tumbuhan memiliki mekanisme fisiologis yang memungkinkan untuk dapat menyerap logam berat dari lingkungannya. Tumbuhan ini dapat digunakan sebagai agen pembersih lingkungan yang dikenal sebagai fitoremediasi.

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow