Kamis, 4 Juni 2026

Rupiah Menanjak, Tapi Drama Global Belum Usai

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Rabu, 28 Januari 2026 | 12:41 WIB


[Locusonline.co] Jakarta, – Rupiah membuka perdagangan Rabu pagi dengan sentimen positif, menguat 0,21% atau 36 poin terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) ke posisi Rp 16.732. Penguatan ini berlangsung di tengah ekspektasi pasar yang kuat bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan sikap kebijakan moneter yang longgar (dovish) pada pertemuan pertamanya di tahun ini.





Analis menilai pelemahan indeks dolar secara global jelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menjadi pendorong utama apresiasi mata uang nasional. Meskipun The Fed diperkirakan belum akan mengubah suku bunga acuan yang saat ini berada di kisaran 3,5-3,75%, pernyataan dan proyeksi arah kebijakan ke depan menjadi sorotan utama pelaku pasar.





Latar Belakang Kebijakan The Fed yang Penuh Tekanan





Sikap longgar The Fed yang diantisipasi pasar tidak terlepas dari rentetan keputusan dan tekanan politik yang intens pada akhir tahun 2025. The Fed telah melakukan tiga kali pemotongan suku bunga berturut-turut pada September, Oktober, dan Desember 2025, dengan total 75 basis points (bps).





Langkah agresif ini terjadi di tengah tekanan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Presiden AS Donald Trump, yang secara terbuka telah berulang kali mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga. Bahkan, pemerintahan AS dilaporkan tengah menyelidiki dugaan tindakan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, yang dianggap sebagai bagian dari upaya Trump untuk memaksa bank sentral mengikuti keinginannya.





Sentimen Global dan Faktor Eksternal Pendukung Rupiah





Selain ekspektasi terhadap The Fed, beberapa faktor eksternal turut mendorong aksi pelepasan aset dolar (dollar sell-off) oleh pelaku pasar global:






  • Ketidakpastian Kebijakan Perdagangan Trump: Rencana Presiden Trump untuk memberlakukan tarif impor ekstrem, seperti tarif 100% untuk ekspor Kanada dan kenaikan tarif otomotif Korea Selatan menjadi 25%, menciptakan ketidakpastian yang mendorong investor mengurangi eksposur terhadap dolar AS.




  • Pelemahan Indeks Dolar: Indeks Dolar AS (DXY) yang melemah menjelang pertemuan The Fed membuat mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, terlihat lebih menarik.





Respons dan Strategi Bank Indonesia





Di tengah angin positif dari global, Bank Indonesia (BI) mengambil posisi yang hati-hati namun optimis. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa penguatan Rupiah didukung fundamental yang kokoh, meliputi:






  • Inflasi yang terkendali rendah.




  • Pertumbuhan ekonomi yang terus membaik.




  • Imbal hasil investasi di Indonesia yang tetap menarik.




  • Komitmen penuh BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar.





BI telah mengambil langkah antisipatif dengan secara bertahap melonggarkan kebijakan moneter domestik. Sejak September 2024, BI telah menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebanyak 5 kali, membawanya ke level 4,75%, dan tetap membuka ruang untuk penurunan lebih lanjut.


Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X