Kamis, 4 Juni 2026

21 Km Jalur Khusus BRT Dibangun, Bandung Uji Nyali Soal Kemacetan

Photo Author
Admin Locus, Locusonline.co
- Minggu, 1 Februari 2026 | 09:40 WIB


[Locusonline.co] Bandung — Pembangunan sistem Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Bandung memasuki fase kritis. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung mengonfirmasi pengerjaan fisik jalur khusus (on corridor) sepanjang 21 kilometer akan dimulai pada bulan ini. Proses pembangunan di sejumlah ruas jalan arteri utama diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap lalu lintas. Kepala Dishub Kota Bandung, Rasdian Setiadi, menyatakan berbagai langkah antisipasi telah disiapkan untuk mengelola dampak ini, termasuk penggunaan sistem lampu lalu lintas berbasis Kecerdasan Artifisial (AI) dan rekayasa lalu lintas intensif.





"Hal yang perlu antisipasi nanti pasti dari situ adanya pembuatan on corridor sama halte itu pasti akan berdampak kepada kemacetan," ujar Rasdian Setiadi, mengakui tantangan yang akan dihadapi.





Rincian Proyek dan Titik Rawan Kemacetan





Proyek BRT Kota Bandung akan mencakup total 18 rute. Dari jumlah tersebut, pembangunan fase awal akan fokus pada 21 km jalur khusus yang terpisah secara fisik dari arus lalu lintas biasa, mirip dengan sistem yang beroperasi di Jakarta. Jalur ini akan dilengkapi dengan halte permanen dan separator.





Pengerjaan fisik menunggu penyelesaian kontrak dari Kementerian Perhubungan, yang ditargetkan pada Februari 2026. Ruas jalan yang akan terdampak pembangunan meliputi beberapa koridor tersibuk di pusat kota, seperti:






  • Jalan Sudirman




  • Jalan Otto Iskandardinata (Otista)




  • Jalan Dewi Sartika




  • Jalan Ahmad Yani




  • Jalan Jakarta





Strategi Antisipasi: Dari Petugas di Lapangan hingga Teknologi AI





Untuk meminimalkan gangguan, Dishub Kota Bandung akan menerapkan strategi penanganan berlapis:






  1. Rekayasa Lalu Lintas Manual: Penempatan petugas pengatur lalu lintas dalam jumlah besar di titik-titik rawan, berkoordinasi erat dengan kepolisian.




  2. Diskusi Terpumpun (FGD): Pada Februari ini, Dishub akan menggelar Forum Group Discussion (FGD) dalam Forum Lalu Lintas untuk menyusun skema penanganan jangka pendek, menengah, dan panjang secara komprehensif.




  3. Penerapan Intelligent Traffic System (ITS): Teknologi utama yang akan diandalkan adalah sistem lampu lalu lintas berbasis AI yang telah diuji coba sejak tahun lalu. Sistem ini dapat mendeteksi panjang antrean kendaraan dan secara otomatis mengatur durasi lampu hijau untuk mengoptimasi arus lalu lintas. "Artinya otomatis kala antrean kendaraannya panjang lampunya bisa otomatis dihijaukan," jelas Rasdian.





Integrasi dengan Angkutan Kota dan Penanganan Dampak Sosial





Selain dampak lalu lintas, proyek besar ini juga menyentuh aspek sosial ekonomi. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa angkutan kota (angkot) tidak akan dihilangkan. Sebaliknya, angkot akan difungsikan sebagai feeder (pengumpan) yang menghubungkan kawasan permukiman dengan koridor dan halte BRT.





"Angkot mah enggak akan hilang. Angkot akan menjadi feeder. Jalurnya mah tetap sama," kata Wali Kota Farhan. Pemerintah Kota juga mendorong program peremajaan armada angkot menjadi angkot listrik yang sudah lebih dulu diluncurkan, sebagai upaya meningkatkan daya tarik transportasi umum.


Halaman:

Editor: Admin Locus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

X