Nasional

BLK Disulap Jadi Inkubator Bisnis, Pengangguran Didorong Jadi Pengusaha

rakyatdemokrasi
×

BLK Disulap Jadi Inkubator Bisnis, Pengangguran Didorong Jadi Pengusaha

Sebarkan artikel ini
BLK Disulap Jadi Inkubator Bisnis, Pengangguran Didorong Jadi Pengusaha locusonline featured image Feb

[Locusonline.co] Jakarta – Guna menjawab tantangan masa depan dan menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) secara resmi meluncurkan rancangan besar transformasi Balai Latihan Kerja (BLK). Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan transformasi ini bertujuan agar program pelatihan semakin relevan dengan kebutuhan industri yang dinamis, lebih mudah diakses masyarakat, dan mampu membuka peluang kerja serta kewirausahaan yang lebih luas.

Transformasi tersebut direncanakan dengan mengubah peran tradisional BLK menjadi tiga fungsi utama: sebagai Klinik Produktivitas, Talent and Innovation Hub (TIH), serta Inkubator Bisnis. Yassierli menjelaskan langkah ini diambil untuk memastikan manfaat pelatihan benar-benar dapat dirasakan masyarakat, dengan keterampilan yang diajarkan tepat sasaran untuk memasuki dunia kerja atau membangun usaha sendiri.

tempat.co

“Yang harus kita kejar bukan sekadar berapa orang dilatih, tapi berapa yang benar-benar bekerja setelah dilatih ataupun mereka yang dapat wirausaha,” tegas Yassierli, menekankan perubahan paradigma dari sekadar output pelatihan menuju dampak nyata penyerapan tenaga kerja. Ia menilai ukuran sukses balai pelatihan kini bergeser dari sekadar banyaknya kegiatan menjadi hasil nyata yang dapat dirasakan publik, terutama pada perluasan kesempatan kerja.

Peta Jalan Transformasi: Kolaborasi dan Pemberdayaan

Untuk mewujudkan visi tersebut, Kemnaker akan mengandalkan kolaborasi strategis dengan kalangan akademisi. Sinergi ini diharapkan dapat menyelaraskan kompetensi SDM dengan kebutuhan industri terkini, baik di dalam maupun luar negeri. Melalui kerja sama ini, BLK akan dikuatkan sebagai Klinik Produktivitas dengan materi pelatihan berorientasi masa depan, seperti green jobs, keterampilan IT kreatif (smart creative IT skills), dan operasi cerdas (smart operation).

Kolaborasi juga akan difokuskan untuk memperkuat peran BLK sebagai TIH, pusat pelatihan inklusif bagi penyandang disabilitas, serta pusat peningkatan produktivitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). “Penguatan fungsi tersebut penting agar BLK tidak sekadar menjadi tempat pelatihan, melainkan juga ruang pengembangan kompetensi yang inklusif dan berdampak luas,” ujar Yassierli.

Lebih jauh, Kemnaker menyiapkan BLK untuk berperan sebagai inkubator bisnis. Peserta yang ingin memulai usaha akan dibimbing secara komprehensif, mulai dari penentuan ide bisnis, analisis pesaing, penyusunan model usaha, strategi pengembangan, hingga pemasaran. Langkah ini sekaligus menjadi wujud konkret dukungan terhadap program Perluasan Kesempatan Kerja, seperti Tenaga Kerja Mandiri (TKM), untuk lulusan BLK yang memilih jalur wirausaha.

Menjawab Tantangan: Kapasitas, Data, dan Transparansi

Yassierli mengakui bahwa selama ini BLK masih menghadapi berbagai tantangan internal yang perlu dibenahi agar dampaknya optimal. Tantangan tersebut mencakup keterbatasan jumlah penerima manfaat, efisiensi biaya, sistem penjaminan mutu pelatihan, pembaruan kurikulum, transparansi proses rekrutmen, serta pelacakan data alumni.

Fakta menunjukkan bahwa kapasitas Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP/BLK) Kemnaker saat ini baru mampu melatih sekitar 70 ribu orang per tahun, atau hanya sekitar 1 persen dari total pengangguran nasional. Kondisi ini menjadi pendorong utama untuk melakukan transformasi dan optimalisasi agar BLK lebih relevan dengan pasar kerja.

Untuk meningkatkan akurasi program, Yassierli menekankan pentingnya pendekatan berbasis data. Setiap program pelatihan vokasi harus didukung data yang akurat dan dapat ditelusuri, mulai dari identitas peserta hingga status mereka pascapelatihan, apakah terserap kerja atau merintis usaha. Langkah ini diharapkan membuat program pemerintah lebih tepat sasaran dan mudah dievaluasi.

Transformasi ini juga dilakukan dalam konteks tantangan fiskal. Sebelumnya, Kemnaker telah mengalami pemangkasan anggaran yang signifikan. Meski demikian, Yassierli memastikan bahwa efisiensi anggaran tidak akan mengganggu program prioritas, melainkan mendorong inovasi dan kolaborasi yang lebih luas dengan berbagai pihak, termasuk kementerian/lembaga lain dan industri swasta.

Konteks dan Komitmen Regional

Komitmen untuk mentransformasi BLK sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kompetensi tenaga kerja. Sebagai contoh, Pemerintah Kabupaten Rembang telah membuka pendaftaran pelatihan vokasi 2026 dengan fokus pada keterampilan praktis siap pakai seperti las, otomotif, dan teknologi informasi. Sementara itu, Dinas Tenaga Kerja Provinsi DKI Jakarta juga terus mendorong peran BLK Jakarta sebagai jembatan strategis antara kebutuhan industri dan potensi warga, menciptakan #GenerasiSiapKerja yang unggul dan berdaya saing.

Dengan peta jalan transformasi yang jelas, BLK diharapkan tidak hanya menjadi tempat memperoleh sertifikat, tetapi menjadi pintu gerbang menuju lapangan kerja yang berkualitas dan kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan. “Tujuan utamanya membangun kembali marwah dan kebanggaan Kemnaker melalui kinerja yang benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkas Yassierli. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow