Sukabumi

Satu Film Bisa Ditonton Jutaan Orang, Kemenbud Dorong Santri Jadi Sineas

rakyatdemokrasi
×

Satu Film Bisa Ditonton Jutaan Orang, Kemenbud Dorong Santri Jadi Sineas

Sebarkan artikel ini
Satu Film Bisa Ditonton Jutaan Orang, Kemenbud Dorong Santri Jadi Sineas locusonline featured image Feb

[Locusonline.co] Sukabumi — Ruang yang kerap diidentikkan dengan diskursus keagamaan kini tengah disiapkan untuk menjadi inkubator karya seni digital. Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia secara aktif mendorong komunitas pesantren untuk memanfaatkan film sebagai medium dakwah yang modern dan abadi, dengan menjadikan kisah inspiratif seorang kiai yang berdakwah hingga ke daerah 3T sebagai salah satu proyek percontohan.

Dalam lawatannya ke Pondok Pesantren Dzikir Al Fath Kota Sukabumi, Direktur Film, Musik, dan Seni Kemenbud RI, Syaifullah, menegaskan transformasi media dakwah ini bukan hanya pilihan, melainkan sebuah keharusan di era digital. “Kalau kita dakwah (langsung), 300 orang itu sudah hebat. Tapi kalau melalui konten film, jutaan orang bisa melihat dan itu akan menetap selamanya,” ujarnya pada Sabtu (31/1).

tempat.co

Syaifullah memandang dunia pesantren sebagai gudang cerita yang tak pernah kering. Sebagai contoh nyata, ia mengagumi perjuangan Pimpinan Ponpes Dzikir Al-Fath, KH Fajar Laksana, yang dengan gigih menyebarkan syiar hingga ke Pulau Buru, Maluku, menghadapi tantangan keterpencilan, minimnya sinyal, dan transportasi yang sulit. “Jika cerita ini didokumentasikan dalam bentuk film, tentu akan sangat menginspirasi karakter bangsa,” tambahnya.

Dukungan Sistemik Kemenbud: Dari Sanfest hingga Indonesiana

Kemenbud tidak hanya sekadar mengajak, tetapi telah menyiapkan infrastruktur dan wadah yang konkret. Syaifullah menyebut dua program utama: Santri Film Festival (Sanfest) dan Layar Indonesiana.

  • Santri Film Festival (Sanfest): Digelar setidaknya sejak 2025, Sanfest bukan sekadar ajang kompetisi. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebutnya sebagai bagian dari gerakan budaya dan medium dakwah kekuatan soft power Indonesia yang memosisikan pesantren sebagai pusat inspirasi. Festival ini secara khusus digagas untuk memperkenalkan nilai, tradisi, dan cara pandang santri kepada khalayak luas.
  • Layar Indonesiana: Program ini merupakan laboratorium kreasi bagi sineas muda, termasuk santri, untuk berlatih menulis skenario dan memproduksi film pendek. Program serupa di bawah Kemendikbudristek menunjukkan antusiasme yang tinggi, dengan jumlah pendaftar meningkat signifikan setiap tahunnya.

Lebih dari itu, Kemenbud juga mendorong pemanfaatan teknologi terkini. Menteri Fadli Zon secara khusus mengajak para santri untuk mengeksplorasi penggunaan kecerdasan artifisial (AI) sebagai alat bantu dalam produksi film. Harapannya, sentuhan teknologi ini dapat melahirkan karya yang tidak hanya bermakna, tetapi juga kompetitif secara visual.

Ekologi Kreatif Pondok Pesantren: Dari Teori ke Praktik

Dukungan pemerintah ini disambut positif oleh kalangan pesantren yang telah lama menyadari kebutuhan beradaptasi. Pimpinan Ponpes Dzikir Al Fath, KH Fajar Laksana, menyatakan kesiapannya untuk membentuk divisi khusus pembuatan film dan konten dakwah yang profesional. “Teknologi saat ini sudah sangat memudahkan, di mana karya berkualitas bisa lahir hanya dari sebuah smartphone,” tegasnya.

Kesadaran ini sejalan dengan gerakan di akar rumput. Berbagai pondok pesantren telah lebih dulu mengadakan pelatihan multimedia bagi santri. Seperti di Pondok Pesantren Babul Hikmah, Lampung Selatan, dimana santri dilatih menggunakan aplikasi editing seperti Wondershare Filmora untuk membuat materi dakwah audio visual yang mudah dipahami pemula. Praktik ini menunjukkan bahwa digitalisasi dakwah bukan lagi wacana, melainkan kenyataan yang sedang dijalankan.

Para praktisi seni pun melihat potensi besar. Aktor senior Adi Bing Slamet yang hadir di Ponpes Dzikir Al Fath menilai pesantren telah memiliki ekosistem budaya dan ilmu yang lengkap. “Sangat bagus jika syiar Pak Kiai ke daerah yang belum tersentuh itu dijadikan dokumenter,” ujarnya.

Dakwah di Era Digital: Menjawab Tantangan dengan Konten Positif

Gerakan santri menjadi sineas ini muncul dalam konteks dakwah yang tengah bertransformasi. Jika metode ceramah konvensional dinilai mulai kehilangan daya tarik di tengah gempuran media digital, kehadiran konten film dan audio-visual yang menarik justru menjadi solusi. Platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok kini menjadi mimbar baru yang menjangkau generasi muda secara lebih efektif.

Namun, ruang digital juga sarat dengan konten negatif. Karena itu, kehadiran karya-karya film santri yang mengedepankan nilai Islam yang moderat, inklusif, dan penuh kedamaian menjadi semakin krusial. Seperti yang ditegaskan dalam sebuah diskusi film di UIN Bandung, dakwah digital harus mampu membangun narasi yang rahmatan lil ‘alamin dan menjadi alat untuk melawan disinformasi.

Dengan memadukan ketekunan intelektual khas pesantren, kekuatan narasi visual, dan dukungan sistemik pemerintah, langkah santri masuk ke dunia film bukan hanya tentang mencipta karya seni. Ini adalah tentang merekam jejak peradaban, memperkuat identitas budaya, dan yang terpenting, menyebarkan pesan kebaikan dengan cara yang sesuai zamannya—sebuah dakwah yang tak lekang oleh waktu. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow