“Presiden menegaskan arah kebijakannya: Indonesia harus mandiri, kuat, dan berhenti puas dengan slogan. Target akhirnya sederhana namun menantang rakyat hidup layak, bukan sekadar dijanjikan masa depan di setiap podium.”
LOCUSONLINE, BOGOR – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali mengingatkan bahwa pembangunan nasional tidak seharusnya sibuk mengejar label “negara kaya” di atas kertas, sementara rakyat masih sibuk bertahan hidup di lapangan. Baginya, ukuran keberhasilan negara bukan deretan grafik ekonomi, melainkan apakah perut rakyat terisi, badan sehat, anak bisa sekolah, dan dompet tidak selalu kosong di akhir bulan.
Pesan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor, awal pekan ini. Di hadapan jajaran pejabat pusat dan daerah, Presiden menegaskan bahwa kesejahteraan rakyat hanya bisa diukur dari hal-hal yang paling mendasar, mulai dari pangan tersedia, layanan kesehatan berjalan, pendidikan terjangkau, dan penghasilan cukup untuk hidup layak.
Alih-alih berbicara abstrak soal pertumbuhan ekonomi, Prabowo menyoroti pondasi yang menurutnya sering diabaikan. Ia menyebut kemandirian nasional sebagai syarat mutlak kedaulatan, yang dimulai dari swasembada pangan dan energi. Tanpa itu, negara hanya akan sibuk berpidato soal kedaulatan sambil tetap bergantung pada impor.
Presiden juga menyinggung besarnya potensi Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri. Sumber daya alam strategis, termasuk kelapa sawit, dinilai bukan sekadar komoditas ekspor, melainkan modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan global asal dikelola dengan serius, bukan sekadar dijadikan bahan laporan.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












