Selain Abraham, forum itu juga dihadiri peneliti senior BRIN Siti Zuhro, mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu, mantan Wakapolri Komjen Pol (Purn) Oegroseno, serta mantan perwira tinggi Polri Susno Duadji.
Meski dikelilingi jajaran pemerintah, Abraham menyebut sebagian besar pejabat justru lebih banyak menjadi pendengar. Mereka hanya sesekali merespons dengan kata “siap” saat diminta konfirmasi Presiden. Selebihnya, ruang diskusi didominasi percakapan antara Prabowo dan para tamu dari kalangan sipil.
Diskusi dibuka dengan paparan Presiden selama sekitar setengah jam. Prabowo memaparkan pengalaman Indonesia dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, serta keterlibatan dalam Forum Perdamaian Gaza yang diprakarsai Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Selain itu, dibahas pula isu pemberantasan korupsi, reformasi kepolisian, serta pembentukan satuan tugas penyelamatan sumber daya alam.
Menurut Abraham, pertemuan berlangsung maraton hingga sekitar lima jam. Padatnya agenda membuat para peserta bahkan tak sempat menyentuh makan malam. Forum baru berakhir sekitar pukul 21.00 WIB.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyinggung pembentukan satgas khusus di bawah koordinasi Kementerian Pertahanan untuk menertibkan praktik eksploitasi sumber daya alam. Presiden mengklaim telah menindak sejumlah bisnis ilegal yang disebut-sebut dilindungi oknum berseragam.
Baca Juga : Damai Versi Impor: Rp17 Triliun Meluncur, Alutsista Minggir Dulu
Abraham menuturkan bahwa Presiden secara terbuka mengakui adanya keterlibatan kelompok besar dan jaringan kuat dalam praktik tersebut. Ia menyebut istilah oligarki dan oknum perwira sebagai bagian dari persoalan yang dihadapi pemerintah.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












