Di balik upaya tersebut, berdiri sosok H. Asep Ruhiman, guru sekaligus seniman tradisi yang menjadi motor utama gerakan budaya di sekolah itu.
Baca Juga : GLMPK Salurkan Bantuan Kursi untuk Siswa SMA YBHM, Pendidikan Tidak Boleh Jadi Korban dari Konflik Apa Pun
Bagi Asep, seni bukan sekadar mata pelajaran tambahan, melainkan urusan hati.
“Seni Sunda itu mahal nilainya. Kalau dibiarkan mati, kita ikut miskin secara budaya,” katanya.
Ia mengaku kegelisahan terhadap masa depan seni tradisi menjadi alasan utama dirinya terus menghidupkan kegiatan kesenian di sekolah.
Sebagai pendidik, Asep melihat seni tradisional bukan hanya melatih keterampilan, tetapi juga membentuk cara berpikir dan kepribadian siswa.
“Belajar seni itu melatih otak kanan, kreativitas, dan rasa. Murid jadi tidak cuma pintar, tapi juga punya jiwa,” jelasnya.
Menurutnya, murid yang akrab dengan seni akan tumbuh lebih peka, disiplin, dan mampu menghargai proses sesuatu yang kerap hilang dalam budaya serba instan.
Ia juga berharap langkah SMKN 12 Garut sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menjaga budaya lokal.
“Program ini harus seirama dengan visi pemerintah daerah. Saya percaya kepemimpinan Jawa Barat punya perhatian besar pada warisan leluhur,” ujarnya.
Di tengah gempuran budaya global, tren luar negeri, dan dominasi media sosial, SMKN 12 Garut menunjukkan bahwa sekolah tidak harus ikut arus tanpa rem.
Mereka membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya tentang mencetak tenaga kerja cepat pakai, tetapi juga tentang menjaga identitas.
Dari denting kacapi, alunan suling, hingga tabuhan degung, sekolah ini mengirim pesan sederhana namun tegas, di era serba digital, budaya bukan untuk ditinggalkan melainkan diperjuangkan.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










