BandungKesehatan

Tak Kenal Waktu, Puskesmas Ibrahim Adjie Hadir 24 Jam untuk Warga

rakyatdemokrasi
×

Tak Kenal Waktu, Puskesmas Ibrahim Adjie Hadir 24 Jam untuk Warga

Sebarkan artikel ini
Tak Kenal Waktu, Puskesmas Ibrahim Adjie Hadir 24 Jam untuk Warga locusonline featured image Feb

[Locusonline.co] Bandung — Di tengah tuntutan layanan kesehatan yang semakin kompleks, Puskesmas UPTD Ibrahim Adjie di Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, berhasil mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat. Kunci keberhasilannya terletak pada dua hal mendasar yang sering kali menjadi keluhan publik: sikap ramah petugas dan ketersediaan layanan 24 jam yang benar-benar berfungsi.

Puskesmas ini membuktikan bahwa fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) tidak harus identik dengan antrean panjang, jam operasional terbatas, dan pelayanan yang kaku. Sebaliknya, mereka menghadirkan model layanan yang responsif dan berpusat pada pasien (patient-centered care).

tempat.co

Layanan 24 Jam: Lebih dari Sekadar ‘Buka’, Tepat Waktu Saat Dibutuhkan

Keunggulan paling menonjol yang dirasakan warga adalah ketersediaan layanan selama 24 jam. Bagi Rusman, salah seorang warga, hal ini bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan solusi kritis di saat darurat.

“Dengan adanya layanan 24 jam, warga bisa berobat kapan saja, baik pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Ini sangat membantu saat kondisi kesehatan tidak bisa diprediksi,” ujar Rusman. Pernyataan ini menggarisbawahi fungsi Puskesmas sebagai safety net kesehatan yang andal di luar jam kerja klinik swasta.

Bagi kelompok pekerja dan ibu rumah tangga, fleksibilitas waktu ini sangat berarti. Vina, warga lain, mengungkapkan, “Tidak semua pasien bisa datang ke puskesmas di pagi hari. Dengan adanya layanan hingga sore atau malam, kami tetap bisa berobat setelah jam kerja.” Layanan ini secara efektif menghilangkan barrier (hambatan) akses bagi masyarakat urban yang sibuk.

Pelayanan Ramah: Mengembalikan “Rasa Manusiawi” dalam Interaksi Medis

Di luar faktor waktu, sentuhan manusiawi menjadi penilaian utama. Warga secara konsisten memuji keramahan, kesigapan, dan perhatian para perawat dan tenaga kesehatan di Puskesmas Ibrahim Adjie.

“Para perawatnya ramah serta benar-benar memperhatikan kebutuhan pasien,” tambah Rusman. Dalam konteks layanan kesehatan yang sering kali terasa mekanistik, pendekatan komunikasi empatik dan pelayanan yang personal ini memberikan dampak psikologis yang positif, mengurangi kecemasan pasien, dan meningkatkan kepatuhan pengobatan.

Kombinasi antara aksesibilitas 24 jam dan kualitas interaksi yang manusiawi ini menciptakan rasa aman dan kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas publik. Hal ini sesuai dengan mandat puskesmas sebagai ujung tombak sistem kesehatan nasional.

Mengapa Model Ibrahim Adjie Penting untuk Direplikasi?

Keberhasilan Puskesmas UPTD Ibrahim Adjie menyoroti beberapa prinsip kunci yang bisa menjadi pembelajaran bagi FKTP lainnya:

  1. Memahami Kebutuhan Riil Masyarakat: Layanan 24 jam adalah respons langsung terhadap pola hidup warga kota yang dinamis dan kebutuhan darurat yang tak terencana.
  2. Investasi pada Sumber Daya Manusia (SDM): Kualitas pelayanan yang ramah menunjukkan adanya pembinaan dan manajemen SDM yang baik di internal puskesmas. Sikap petugas adalah penentu utama pengalaman pasien.
  3. Membangun Kepercayaan Publik: Ketika masyarakat merasa dilayani dengan baik dan mudah diakses, tingkat kunjungan dan pemanfaatan layanan dasar (seperti pencegahan dan pengobatan dini) akan meningkat. Ini pada akhirnya dapat menurunkan beban rumah sakit.
  4. Efisiensi Sistem Kesehatan: Dengan berfungsinya puskesmas secara optimal, rujukan ke rumah sakit untuk kasus-kasus non-kompleks dapat diminimalisir, menghemat biaya kesehatan nasional (JKN).

Tantangan Keberlanjutan dan Rekomendasi

Untuk mempertahankan dan meningkatkan standar ini, beberapa hal perlu menjadi perhatian:

  • Ketersediaan dan Kesejahteraan Tenaga Kesehatan: Layanan 24 jam membutuhkan penjadwalan dan kompensasi yang adil bagi tenaga kesehatan agar tidak terjadi kelelahan (burnout) yang justru menurunkan kualitas layanan.
  • Ketersediaan Obat dan Peralatan: Layanan yang andal harus didukung dengan ketersediaan logistik (obat, alat kesehatan) yang memadai selama 24 jam.
  • Pemantauan dan Evaluasi Berkelanjutan: Perlu sistem umpan balik (feedback) yang rutin dari masyarakat dan audit internal untuk menjaga konsistensi kualitas.

Keberhasilan Puskesmas UPTD Ibrahim Adjie merupakan contoh nyata bahwa layanan kesehatan publik dapat berkualitas tinggi dan disukai masyarakat. Inisiatif ini seharusnya tidak berhenti sebagai kisah sukses lokal, tetapi dijadikan model dan didukung kebijakan anggaran serta sumber daya manusia yang memadai untuk direplikasi di puskesmas-puskesmas lain di Kota Bandung dan seluruh Indonesia. Dengan demikian, cita-cita untuk memiliki layanan kesehatan dasar yang merata, terjangkau, dan bermutu benar-benar dapat terwujud. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow