[Locusonline.co] BANDUNG – Pendopo Kota Bandung menjadi saksi penegasan posisi kota itu sebagai jantung kreatif industri fesyen muslim Indonesia. Dalam perhelatan “Nooramadan: Cahaya Busana Islami 2026” yang sekaligus merayakan Hari Lahir ke-29 Ikatan Perancang Busana Muslim (IPBM) Kota Bandung, Wali Kota Muhammad Farhan mendeklarasikan keunggulan kota berbasis desain eksklusif dan keberlanjutan, bukan produksi massal.
Acara ini menghimpun para perancang, akademisi, dan pelaku industri, menandai dimulainya siklus ekonomi kreatif yang digerakkan oleh momentum Ramadhan 1447 H.
Rekam Jejak Tiga Dekade: Dari Resistensi ke Pusat Kreasi Global
Dalam pidatonya, Wali Kota Farhan merefleksikan perjalanan panjang busana muslim Indonesia yang tak lepas dari dinamika sosial kota ini. Ia menyebut era 1980-an sebagai periode di mana penggunaan hijab masih menghadapi resistensi—sebuah tantangan yang justru membentuk karakter dan kedewasaan industri saat ini.
“Fesyen bukan sekadar pakaian. Ia adalah pernyataan identitas dan kebebasan berekspresi. Perjalanan panjang itulah yang membentuk kekuatan ekosistem kita hari ini,” tegas Farhan.
Dia menilai, hampir tiga dekade dedikasi IPBM telah membangun ekosistem kreatif yang solid, yang tak hanya menciptakan industri, tetapi juga membentuk identitas fesyen muslim Indonesia yang kini diakui luas.
Bandung vs. Fast Fashion: Strategi Keunggulan Berbasis Desain dan Keberlanjutan
Farhan menegaskan bahwa strategi Bandung berbeda dari pusat produksi massal. Keunggulan kompetitif kota ini terletak pada desain yang unik, personal, dan bernilai seni tinggi, yang menawarkan nilai tambah lebih besar dibandingkan fast fashion.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya prinsip keberlanjutan (sustainability) dalam industri. Inovasi daur ulang dan pengelolaan limbah fesyen disebut sebagai peluang sekaligus keharusan untuk menjawab tantangan lingkungan global.