[Locusonline.co] Bandung – Di tengah gempuran algoritma dan hiruk-pikuk media sosial, peran media arus utama sebagai ruang dialog publik yang sehat justru semakin krusial. Hal ini mengemuka dalam perbincangan khusus Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bersama Elshinta News & Talk, yang memperingati hari jadinya yang ke-26 di Pendopo Kota Bandung, Selasa (10/2).
Bagi Farhan, yang merupakan mantan penyiar dan pengelola program radio nasional, momen ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi ruang refleksi tentang filosofi kepemimpinan, dinamika komunikasi publik, dan posisi strategis media di era fragmentasi informasi.
"Warga Kritis Itu Energi Positif"
Membuka diskusi, Farhan menegaskan bahwa karakter masyarakat Bandung yang kritis bukanlah hambatan, melainkan bahan bakar bagi pemerintah.
"Bandung itu dinamis, warganya kritis. Justru kritik membuat wali kotanya tidak pernah lengah," ujarnya.
Ia menempatkan media seperti Elshinta sebagai aktor kunci dalam ekosistem demokrasi lokal. Perannya tidak berhenti pada menyiarkan berita, tetapi menjadi ruang partisipasi warga dan pengingat bagi penguasa untuk tetap responsif dan akuntabel. Kritik publik, dalam kerangka ini, bukan serangan personal, melainkan mekanisme umpan balik yang sehat dalam tata kelola kota.
Dari Penulis Skrip ke Kursi Eksekutif: "Tidak Ada Remedial dalam Kepemimpinan"
Farhan merefleksikan perjalanan pribadinya dari dunia penyiaran ke panggung eksekutif. Kariernya dimulai sebagai penulis skrip di KLCBS Bandung, sebelum berkembang menjadi penyiar dan pengelola program.
Memasuki tahun pertama sebagai Wali Kota, ia mengakui transisi dari legislatif dan dunia media ke eksekutif penuh dengan tantangan adaptasi. Yang paling menonjol adalah perbedaan pola pikir (mindset).