BisnisKeuangan

IHSG Anjlok 1,47% di Awal Perdagangan, Saham Big Caps Jadi Biang Kerok

rakyatdemokrasi
×

IHSG Anjlok 1,47% di Awal Perdagangan, Saham Big Caps Jadi Biang Kerok

Sebarkan artikel ini
IHSG Anjlok 1,47 persen di Awal Perdagangan, Saham Big Caps Jadi Biang Kerok locusonline featured image Feb 2026 a
ucapan selamat Hari Jadi Garut ke 213

[Locusonline.co] JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Jumat (27/2/2026) dengan performa yang mengejutkan pasar. Indeks ambles 1,47% atau terkoreksi 121,26 poin ke level 8.114,00 pada pukul 09.11 WIB, melanjutkan tekanan jual yang sudah terlihat sejak pembukaan.

Bahkan, IHSG sempat menyentuh level terendah di 8.093,75, jauh dari level penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di 8.235,26. Meski demikian, pada pukul 09.36 WIB, indeks berhasil memangkas koreksinya menjadi -0,29% , menunjukkan adanya aksi beli di tengah tekanan.

tempat.co

Saham Big Caps Jadi Penekan Utama

Berdasarkan data Refinitiv, pelemahan tajam IHSG di awal sesi disebabkan oleh koreksi pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang memiliki bobot signifikan terhadap indeks. Dua saham konglomerat, Barito Renewables Energy (BREN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) , menjadi kontributor negatif terbesar.

Berikut adalah 10 emiten yang paling membebani IHSG berdasarkan kontribusi penurunan indeks (index points) per pukul 09.11 WIB:

PeringkatKode SahamNama EmitenKontribusi Pelemahan (poin)
1BRENBarito Renewables Energy-9,26
2DSSADian Swastatika Sentosa-8,23
3BBCABank Central Asia-7,11
4BBRIBank Rakyat Indonesia-6,29
5TLKMTelkom Indonesia-5,26
6TPIAChandra Asri Pacific-3,11
7BRPTBarito Pacific-2,58
8ASIIAstra International-2,05
9GOTOGoTo Gojek Tokopedia-1,97
10PTROPetrindo Jaya Kreasi-1,81
Total-47,67 poin

Jika dijumlahkan, kesepuluh saham tersebut menyumbang lebih dari 47 poin pelemahan indeks, atau sekitar sepertiga dari total koreksi IHSG pagi ini yang mencapai 121 poin. Tekanan terbesar terlihat berasal dari kelompok saham energi dan konglomerasi (BREN, DSSA, BRPT), serta perbankan besar (BBCA dan BBRI).

Aktivitas Perdagangan

Hingga pukul 09.11 WIB, aktivitas perdagangan tercatat sebagai berikut:

  • Nilai Transaksi: Rp2,98 triliun
  • Volume Perdagangan: 7,98 miliar saham
  • Frekuensi Transaksi: 397 ribu kali
  • Saham Melemah: 507 saham
  • Saham Menguat: 124 saham
  • Saham Stagnan: 327 saham

Data ini mencerminkan dominasi tekanan jual yang sangat kuat di pasar, dengan jumlah saham melemah lebih dari empat kali lipat dibandingkan saham yang menguat.

Analisis Teknikal: Sinyal Koreksi Semakin Kuat

Dari sisi teknikal, pelemahan IHSG pada Kamis (26/2) kemarin telah memberikan sinyal bahwa koreksi lanjutan berpotensi terjadi. Indikasinya muncul lewat terbentuknya pola Bearish Rising Wedge.

Apa itu Bearish Rising Wedge?

  • Pola ini terjadi ketika harga mengalami kenaikan dalam rentang pergerakan yang semakin menyempit.
  • Secara teoritis, pola ini sering dibaca sebagai tanda bahwa penguatan mulai kehilangan tenaga dan rawan berbalik arah (reversal).

Pola tersebut muncul setelah IHSG sempat anjlok pada akhir Januari lalu, kemudian perlahan menanjak. Namun, indeks beberapa kali gagal menembus level psikologis 8.400. Gagalnya penguatan di area itu kemudian diikuti pembentukan wedge, yang kerap berakhir dengan penembusan ke bawah (breakdown).

Jika skenario Bearish Rising Wedge ini terkonfirmasi, IHSG berpotensi menguji area support di kisaran 7.900 hingga 7.800 , atau membuka ruang penurunan sekitar 4% dari level saat ini.

Sentimen Pasar: Aksi Ambil Untung

Pada perdagangan Jumat ini, pergerakan pasar saham diperkirakan akan cenderung sideways dengan potensi pelemahan. Ruang koreksi terbuka setelah pada perdagangan Kamis kemarin pelaku pasar mulai melakukan aksi ambil untung (taking profit) , terutama setelah reli yang cukup panjang.

Investor tampaknya memanfaatkan momentum penguatan sebelumnya untuk merealisasikan keuntungan, yang kemudian memicu tekanan jual beruntun, terutama pada saham-saham yang harganya sudah melesat tinggi seperti BREN dan DSSA.

Prospek dan Strategi

Meski IHSG berhasil memangkas koreksi menjadi -0,29% pada pukul 09.36 WIB, kewaspadaan tetap diperlukan. Investor disarankan untuk:

  1. Memantau level support kritis di kisaran 8.000–8.100. Jika level ini ditembus, potensi koreksi lebih dalam ke 7.900–7.800 terbuka.
  2. Mencermati pergerakan saham big caps, terutama BBCA, BBRI, dan BREN, karena bobotnya sangat signifikan terhadap IHSG.
  3. Menghindari leverage berlebihan di tengah volatilitas tinggi.
  4. Memanfaatkan koreksi untuk akumulasi bertahap (buy on weakness) pada saham-saham dengan fundamental kuat, dengan catatan profil risiko jangka panjang.

Koreksi IHSG di awal perdagangan Jumat ini mengonfirmasi sinyal teknikal yang telah terbentuk sebelumnya. Tekanan jual terpusat pada saham-saham big caps, terutama di sektor energi dan perbankan. Meskipun ada upaya rebound, pasar masih dibayangi potensi pelemahan lanjutan menuju area support 7.900–7.800. Investor disarankan untuk tetap waspada dan mengelola risiko dengan bijak. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow