Garut

MBG Disentil dari Jalanan, Tukang Cukur Garut Pilih Bagi Cukur dan Makanan Gratis

rakyatdemokrasi
×

MBG Disentil dari Jalanan, Tukang Cukur Garut Pilih Bagi Cukur dan Makanan Gratis

Sebarkan artikel ini
MBG Disentil dari Jalanan, Tukang Cukur Garut Pilih Bagi Cukur dan Makanan Gratis locusonline featured image Feb 2026 a
ucapan selamat Hari Jadi Garut ke 213

[Locusonline.co] GARUT – Di tengah bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah yang tetap berjalan selama bulan Ramadan, muncul aksi sosial unik sekaligus bernuansa kritik di Kabupaten Garut. Seorang pencukur rambut, Ari Ahmad Riadi, menggelar aksi bertajuk “MBG: Mangkas Buuk Gratis dan Menu Buka Gratis” di kawasan Bundaran Simpang Lima, Kecamatan Tarogong Kidul, Jumat sore (27/2/2026).

Aksi yang memadukan layanan sosial dan pesan kritis ini langsung menarik perhatian warga yang melintas. Di lokasi, Ari menyediakan layanan cukur rambut gratis bagi masyarakat serta membagikan menu berbuka puasa tanpa dipungut biaya sepeser pun.

tempat.co

MBG Versi Rakyat: Mangkas Buuk Gratis, Bukan Sekadar Program Administratif

Ari menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus kritik sosial terhadap pelaksanaan program bantuan agar benar-benar tepat sasaran.

“MBG harus tepat sasaran ke warga yang memang berhak menerima. Jangan sampai dijadikan ladang bisnis. Namanya gratis ya memang harus gratis, ambil keuntungan sewajarnya, jangan sebesar-besarnya,” ujarnya.

Menurut Ari, inisiatif ini murni gerakan sosial tanpa kepentingan komersial. Baginya, esensi bantuan sosial adalah kebermanfaatan langsung bagi masyarakat yang membutuhkan, bukan sekadar program administratif yang sibuk dengan laporan namun lupa pada substansi.

Suara Anak Sekolah: “Lebih Baik Uangnya Saja”

Hal menarik muncul saat Ari berdiskusi dengan sejumlah anak sekolah yang datang untuk mencukur rambut. Mereka memberikan respons yang cukup mengejutkan terkait program Makan Bergizi Gratis.

“Tadi saya sempat ngobrol sama anak sekolah yang dicukur. Mereka bilang, kalau bisa uangnya saja yang diberikan langsung supaya bisa ditabung buat beli baju Lebaran. Karena kalau makanannya kadang suka dibuang karena berbagai kondisinya yang tidak layak makan,” ungkapnya.

Pernyataan ini menjadi bahan refleksi bahwa kebijakan publik kerap memiliki dinamika di lapangan yang perlu didengar secara langsung dari penerima manfaat. Apa yang dirancang di meja diskusi belum tentu sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat.

Kritik yang Membangun: Antara Program dan Realitas

Ari menilai, kebutuhan masyarakat saat Ramadan dan menjelang Idul Fitri cukup beragam. Karena itu, pendekatan program sosial perlu mempertimbangkan kondisi riil dan aspirasi warga.

Beberapa poin kritik yang dapat ditarik dari aksi ini:

AspekKritik dan Harapan
Ketepatan SasaranBantuan harus benar-benar sampai ke yang berhak, bukan malah jadi ladang bisnis
Kualitas BantuanMakanan jangan sampai tidak layak konsumsi hingga akhirnya dibuang
Fleksibilitas ProgramKebutuhan masyarakat berbeda-beda, perlu ruang untuk menyesuaikan
Partisipasi PenerimaSuara rakyat kecil harus didengar dalam evaluasi program
Nilai KeberkahanBerbagi harus dilandasi ketulusan, bukan sekadar memenuhi target

Antusiasme Warga: Bukti Kebutuhan Nyata

Dalam aksi Mangkas Buuk Gratis tersebut, sejumlah warga tampak antusias memanfaatkan layanan cukur rambut tanpa biaya. Sementara itu, paket menu berbuka juga dibagikan kepada masyarakat sekitar, khususnya mereka yang beraktivitas di jalanan dan kawasan sekitar bundaran.

Antusiasme ini menjadi bukti nyata bahwa masih banyak warga yang membutuhkan uluran tangan, terutama di bulan suci Ramadan.

Pesan di Balik Gunting dan Takjil

Ari berharap, aksi kecil yang dilakukannya bisa menjadi pengingat bahwa semangat berbagi harus dilandasi ketulusan.

“Ini bentuk kritik tapi juga solusi sederhana. Kalau bisa membantu langsung dan jelas manfaatnya, kenapa tidak? Yang penting jangan sampai bantuan yang seharusnya untuk rakyat justru dimanfaatkan untuk kepentingan lain,” katanya.

Aksi ini mengajarkan bahwa:

Kritik tidak harus keras, bisa disampaikan dengan cara kreatif dan penuh makna
Berbagi tidak harus menunggu kaya, niat tulus lebih berharga dari materi
Mendengar suara rakyat adalah kunci perbaikan kebijakan
Ramadan adalah momentum untuk membersihkan hati, termasuk dari praktik-praktik yang tidak adil

MBG: Antara Program Nasional dan Realitas Lokal

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah memang bernilai positif. Namun, aksi Ari mengingatkan bahwa implementasi di lapangan harus terus dievaluasi. Jangan sampai program mulia ini justru melahirkan masalah baru karena tidak tepat sasaran atau kualitas yang buruk.

Suara dari Garut ini layak didengar oleh para pengambil kebijakan. Karena pada akhirnya, yang paling tahu kebutuhan rakyat adalah rakyat itu sendiri. (**)


#MBGRakyat #MangkasBuukGratis #MenuBukaGratis #KritikSosial #Garut #RamadanBerbagi #BantuanTepatSasaran #SuaraRakyat

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow