LOCUSONLINE, JAKARTA – Di tengah konflik yang kembali memanas di Timur Tengah, satu pertanyaan lama muncul lagi, apakah Indonesia cukup berdiri sebagai penonton netral, atau sudah waktunya bersuara lebih keras? Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla memilih jawaban kedua meski konsekuensinya tentu bukan sekadar pernyataan diplomatik yang aman.
Menurut JK, posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia seharusnya tidak berhenti pada status simbolik. Dalam pandangannya, ketika sebuah negara menjadi korban serangan, logika moral dan politik menuntut adanya sikap yang jelas.
Ia mencontohkan konflik yang melibatkan Iran. Jika negara tersebut berada dalam posisi diserang, kata JK, Indonesia seharusnya tidak sekadar mengamati dari kejauhan tanpa menunjukkan keberpihakan.
Baca Juga : Reuni Para Penguasa: Antara Nostalgia Kekuasaan dan Ujian Kebijaksanaan
Dalam pernyataannya yang dikutip dari Antara, JK menilai Indonesia perlu menunjukkan sikap terhadap negara yang menjadi korban agresi. Menurutnya, sikap itu penting agar konsistensi Indonesia dalam menjalin kerja sama dengan negara-negara di kawasan Asia maupun dunia Islam tetap terjaga.
Ia juga menekankan bahwa status Indonesia sebagai negara dengan komunitas Muslim terbesar membawa ekspektasi tersendiri dalam diplomasi global. Negara-negara lain, terutama di kawasan dunia Islam, cenderung menunggu bagaimana Indonesia merespons konflik yang melibatkan sesama negara Muslim.
Karena itu, JK menilai sikap netral tanpa arah bukan pilihan yang tepat. Menurutnya, diplomasi tidak selalu berarti berdiri di tengah tanpa suara, tetapi juga berani menyampaikan posisi secara terbuka.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”











