Menurut Murad, yang penting bukan sekadar panggilan telepon itu terjadi, tetapi fungsi diplomatik yang dijalankannya. Rusia berada pada posisi unik, yaitu memiliki kemitraan strategis dengan Iran sekaligus hubungan yang relatif hangat dengan negara-negara Teluk.
Peran mediator itu misalnya terlihat ketika Moskow dapat menyampaikan kekhawatiran Abu Dhabi kepada Teheran terkait serangan Iran, sambil menegaskan bahwa wilayah Abu Dhabi tidak digunakan sebagai pangkalan untuk menyerang Iran. Klarifikasi semacam itu dinilai penting agar negara yang sebenarnya netral tidak ikut terseret konflik hanya karena kesalahpahaman.
Murad juga menyinggung komunikasi antara Putin dan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman. Dalam percakapan tersebut, Putin disebut mengingatkan risiko katastrofik jika stabilitas kawasan Teluk runtuh dan jalur energi global berubah menjadi medan pertempuran.
Menurut Murad, kemampuan Rusia berbicara dengan hampir semua pihak di kawasan membuatnya relatif cocok menjalankan peran penengah. Tidak banyak negara yang memiliki akses komunikasi yang kredibel ke berbagai kubu sekaligus, terutama ketika ketegangan sedang memuncak dan kepercayaan antar pihak menipis.
Pada akhirnya, tujuan diplomatik Moskow setidaknya menurut Murad adalah menciptakan jalur komunikasi informal untuk mencegah infrastruktur sipil dan energi di Teluk menjadi sasaran konflik. Jika upaya itu berhasil, dampaknya bukan hanya menyelamatkan kawasan, tetapi juga menahan guncangan besar terhadap perdagangan dan energi global.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












