LOCUSONLINE, JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan metropolitan, tragedi datang bukan dari gempa atau badai, melainkan dari sesuatu yang setiap hari dihasilkan manusia, yaitu sampah. Longsoran gunungan limbah di TPST Bantargebang, Bekasi, pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 14.30 WIB menewaskan lima orang yang berada di lokasi.
Peristiwa itu terjadi ketika sejumlah truk sampah tengah mengantre untuk menurunkan muatan di area pembuangan. Tanpa peringatan, timbunan sampah yang sudah menggunung runtuh secara tiba-tiba, menimpa para pekerja dan pengemudi yang sedang menunggu giliran.
Tragedi tersebut kembali menyoroti persoalan lama yang selama ini hanya dibicarakan di ruang rapat dan seminar dimana pengelolaan sampah perkotaan yang kian mendesak.
Isu mengenai gunungan sampah di Bantargebang sebenarnya bukan kabar baru. Presiden Prabowo Subianto bahkan sempat menyinggung kondisi tersebut dalam Sidang Kabinet Paripurna yang membahas evaluasi satu tahun kinerja pemerintah di Istana Negara, Jakarta, pada Oktober 2025.
Dalam forum tersebut, Presiden mengungkapkan bahwa timbunan sampah di Bantargebang diperkirakan telah mencapai sekitar 55 juta ton. Angka yang bagi sebagian orang mungkin sekadar statistik, tetapi bagi warga sekitar bisa menjadi ancaman nyata.
Baca Juga : Harga Minyak Dunia Naik, Rupiah Terengah, dan APBN Ikut Berkeringat
Prabowo menyebut bahwa jika hujan deras terjadi dan pengelolaan tidak diperbaiki, gunungan sampah tersebut berpotensi menimbulkan bahaya bagi permukiman yang berada di sekitarnya.
Sebagai respons terhadap persoalan tersebut, pemerintah merencanakan pembangunan puluhan fasilitas pengolah sampah menjadi energi listrik. Proyek ini akan digarap melalui Badan Pengelola Investasi Danantara dengan rencana pembangunan 34 pembangkit listrik tenaga sampah atau PLTSa.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









