Fasilitas tersebut tidak hanya dirancang untuk kawasan Bantargebang, tetapi juga untuk berbagai daerah lain di Indonesia yang menghadapi masalah penumpukan limbah perkotaan.
Selain dianggap sebagai solusi lingkungan, proyek ini juga dinilai memiliki dampak strategis bagi sektor lain, termasuk pariwisata. Pemerintah menilai kebersihan kota menjadi salah satu faktor penting dalam menarik wisatawan.
Melalui sistem waste to energy, pemerintah menargetkan pengolahan sekitar 33.000 ton sampah setiap hari untuk diubah menjadi energi listrik. Sistem ini rencananya diterapkan di kota-kota yang menghasilkan lebih dari 1.000 ton sampah per hari.
Beberapa wilayah yang menjadi prioritas pembangunan instalasi tersebut antara lain Yogyakarta, Denpasar, Bogor, Depok, Bekasi, Medan, hingga kawasan Semarang dan sekitarnya.
Namun sebelum semua rencana itu terwujud, tragedi di Bantargebang kembali menjadi pengingat pahit: ketika produksi sampah kota terus bertambah, sementara solusi sering berjalan lebih lambat dari timbunan limbahnya sendiri.
Di tempat yang selama ini menampung sisa kehidupan kota, longsoran sampah akhirnya menunjukkan satu kenyataan sederhana bahwa persoalan yang terus ditumpuk, suatu saat pasti runtuh juga.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









