ArtikelEkonomiInternasionalNewsOpini

Ketika Perang Jadi Pemantik, Harga Minyak Menari di Atas 100 Dolar

bhegins
×

Ketika Perang Jadi Pemantik, Harga Minyak Menari di Atas 100 Dolar

Sebarkan artikel ini
Gemini Generated Image oma6rioma6rioma6
Gambar ilustrasi AI

Secara keseluruhan, negara-negara anggota IEA menyimpan sekitar 1,2 miliar barel cadangan minyak mentah, setara dengan dua bulan kebutuhan energi mereka.

Di sisi lain, Washington juga berkomunikasi dengan perusahaan pelayaran yang berusaha menarik kapal-kapal mereka keluar dari kawasan Teluk. Pemerintah AS bahkan membuka kemungkinan memberikan perlindungan militer bagi kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz agar pengiriman energi bisa kembali berjalan.

tempat.co

Berbagai negara lain memilih strategi berbeda untuk menahan dampak lonjakan harga energi. Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, mengumumkan pembatasan harga bahan bakar guna melindungi konsumen domestik, sembari menyiapkan dana stabilisasi hingga puluhan miliar dolar.

Vietnam mempertimbangkan penghapusan tarif impor bahan bakar demi menjaga pasokan energi. Sementara Bangladesh memilih pendekatan unik: menekan konsumsi energi dengan memperpanjang masa libur lembaga pendidikan selama periode Ramadhan dan Lebaran.

Langkah berbeda diambil oleh Filipina. Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengubah sistem kerja kantor pemerintah menjadi empat hari dalam sepekan untuk sementara waktu demi menghemat konsumsi energi.

Di tengah berbagai kebijakan darurat itu, para ekonom mulai mengingatkan potensi dampak yang lebih luas. Kepala ekonom JPMorgan, Bruce Kasman, menilai dunia masih sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah yang sebagian besar melewati Selat Hormuz.

Jika konflik mereda, harga minyak diperkirakan bisa turun kembali setelah sempat mendekati 120 dolar AS per barel. Namun bila ketegangan terus meningkat, lonjakan harga bisa melampaui level tersebut.

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow