Di sisi lain, pemerintah Iran juga memaparkan dampak konflik yang berlangsung sekitar sepuluh hari terakhir. Dalam data yang disampaikan, lebih dari 1.300 anak-anak dan warga sipil dilaporkan tewas akibat rangkaian serangan udara.
Kerusakan yang tercatat juga tidak kecil. Sebanyak 9.669 target sipil disebut mengalami kehancuran, termasuk hampir 8.000 rumah tinggal, fasilitas kesehatan, sekolah, serta infrastruktur energi.
Baca Juga : Prabowo Berkirim Belasungkawa, Dunia Masih Sibuk Menghitung Asap Perang
Iran turut menyoroti serangan terhadap aset maritimnya di perairan internasional. Salah satunya adalah kapal perang “Dena”, yang menurut pihak Iran sedang berlayar menuju India atas undangan resmi Angkatan Laut negara tersebut.
Kapal itu disebut tidak membawa persenjataan saat diserang. Dalam pernyataannya, Kedutaan Besar Iran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional sekaligus ancaman terhadap keamanan pelayaran global.
Namun eskalasi konflik tidak berhenti pada pertempuran militer. Dalam pernyataan yang sama, Iran juga menegaskan bahwa pintu diplomasi dengan Washington kini resmi tertutup.
Teheran menilai Amerika Serikat telah berulang kali melanggar komitmen diplomatik. Pemerintah Iran menyebut tiga peristiwa sebagai bukti penarikan sepihak dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action pada 2018, serangan militer pada Juni 2025, serta serangan terbaru pada 28 Februari 2026 yang terjadi tidak lama setelah putaran kedua perundingan.
Atas dasar itu, Iran menegaskan haknya untuk mempertahankan kedaulatan wilayah sesuai Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









