[Locusonline.co] JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) memutuskan untuk membagikan dividen sebesar 65 persen dari laba bersih tahun buku 2025, atau senilai sekitar Rp13,03 triliun kepada para pemegang saham. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Senin lalu.
Meski rasio pembagian dividen tetap dipertahankan di level yang sama dengan tahun sebelumnya, nilai dividen yang dibagikan tahun ini lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini seiring dengan penurunan laba bersih bank sepanjang tahun 2025 akibat tekanan biaya dana (cost of fund) yang meningkat di tengah kondisi suku bunga tinggi.
“Dividen akan dibayarkan secara proporsional kepada pemegang saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal pencatatan atau recording date yang akan ditetapkan kemudian,” jelas Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena .
Laba Bersih 2025 Turun 6,63%, Pendapatan Bunga Terjaga
Sepanjang tahun 2025, BBNI membukukan laba bersih sebesar Rp20,04 triliun . Capaian ini menurun 6,63 persen dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp21,46 triliun.
Penurunan laba terjadi meskipun pendapatan bunga bank meningkat. Secara keseluruhan, pendapatan bunga BNI sepanjang 2025 tercatat naik sekitar 4,22 persen menjadi Rp69,39 triliun . Namun, kenaikan ini diikuti oleh lonjakan beban bunga yang lebih besar.Indikator Kinerja 2024 2025 Perubahan Pendapatan Bunga Rp66,58 triliun Rp69,39 triliun ▲ 4,22% Beban Bunga Rp26,10 triliun Rp29,06 triliun ▲ 11,33% Pendapatan Bunga Bersih Rp40,48 triliun Rp40,33 triliun ▼ 0,37% Laba Bersih Rp21,46 triliun Rp20,04 triliun ▼ 6,63%
Peningkatan beban bunga yang signifikan terjadi di tengah kondisi suku bunga yang relatif tinggi, yang mendorong kenaikan biaya dana (cost of fund) perbankan secara umum .
Alokasi Laba: Dividen Rp13,03 Triliun dan Laba Ditahan Rp7,01 Triliun
Dari total laba bersih tahun buku 2025, BBNI mengalokasikan:
- Rp13,03 triliun (65%) : Dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham.
- Rp7,01 triliun (35%) : Dialokasikan sebagai saldo laba ditahan . Dana ini akan digunakan untuk mendukung pengembangan usaha sekaligus memperkuat struktur permodalan bank.
RUPST juga memberikan kewenangan kepada direksi untuk menetapkan jadwal dan tata cara pembagian dividen sesuai ketentuan yang berlaku, termasuk pemotongan pajak dividen sesuai regulasi perpajakan .
Kinerja Operasional dan Ekspansi Aset
Dari sisi kinerja operasional, BBNI mencatat beberapa perkembangan penting sepanjang 2025:
- Pendapatan operasional tercatat sekitar Rp12,99 triliun, dengan pertumbuhan sekitar 2,76% secara tahunan.
- Beban operasional meningkat lebih cepat, yakni sekitar 10,69% menjadi Rp8,37 triliun, menekan laba bersih periode pelaporan.
Meski laba tertekan, BBNI mencatat ekspansi aset yang signifikan:Komponen Neraca Nilai 2025 Pertumbuhan Total Aset Rp1.362,05 triliun ▲ 20,52% Total Liabilitas Rp1.185,72 triliun ▲ 23,05% Total Ekuitas Rp176,34 triliun – Kas & Investasi Jangka Pendek Rp85,80 triliun ▲ 35,05%
Pertumbuhan aset yang solid menunjukkan bahwa BNI tetap agresif dalam ekspansi bisnis meskipun profitabilitas jangka pendek mengalami tekanan.
Rasio Profitabilitas
- Return on Assets (ROA) : 1,48%, mencerminkan kemampuan bank menghasilkan laba dari total aset yang dikelola.
- Price to Book Value (PBV) : 0,93 kali (dengan jumlah saham beredar ~37,26 miliar lembar), menunjukkan valuasi yang relatif menarik.
Arus Kas: Aktivitas Operasi dan Investasi Terkontraksi
Laporan arus kas menunjukkan dinamika yang menarik:Aktivitas Arus Kas Keterangan Operasi -Rp91,69 triliun Negatif, mencerminkan ekspansi portofolio kredit yang masif. Investasi -Rp22,84 triliun Negatif, investasi pada aset tetap dan instrumen jangka panjang. Pendanaan +Rp95,50 triliun Positif, dari penerbitan surat berharga atau penambahan modal. Perubahan Bersih Kas -Rp19,73 triliun Kas bersih berkurang selama periode 2025.
Penurunan kas bersih ini perlu dicermati, namun dalam konteks bank yang sedang ekspansif, hal ini bisa menjadi indikator penyaluran dana untuk pertumbuhan aset produktif.
Kesimpulan: Dividen Turun, Tapi Komitmen pada Pemegang Saham Tetap
Keputusan BBNI untuk membagikan 65% laba sebagai dividen, meskipun nilainya turun secara absolut karena penurunan laba bersih, menunjukkan komitmen manajemen untuk tetap memberikan imbal hasil yang menarik bagi pemegang saham. Penurunan laba terutama disebabkan oleh tekanan biaya dana di tengah suku bunga tinggi, yang merupakan tantangan yang dihadapi seluruh industri perbankan.
Di sisi lain, ekspansi aset yang agresif dan pertumbuhan kas & investasi jangka pendek yang signifikan (▲35,05%) menunjukkan bahwa BNI sedang mempersiapkan diri untuk momentum pertumbuhan di masa depan, terutama ketika siklus suku bunga mulai berbalik.
Bagi investor, dividen yang lebih rendah mungkin mengecewakan dalam jangka pendek, tetapi ekspansi aset dan valuasi yang menarik (PBV <1) bisa menjadi katalis positif untuk jangka menengah-panjang. (**)










