Sejak konflik itu pecah, aktivitas pelayaran di selat yang menjadi jalur vital energi dunia itu nyaris berhenti. Kapal-kapal tanker yang biasanya lalu-lalang membawa minyak kini memilih menunggu di perairan yang lebih aman, sementara perusahaan pelayaran menimbang ulang risiko yang semakin tinggi.
Dampaknya langsung terasa pada data pelayaran global. Perusahaan analisis energi Kpler mencatat lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz anjlok hingga sekitar 90 persen hanya dalam waktu satu pekan. Penurunan tajam itu menunjukkan betapa sensitifnya jalur laut sempit tersebut terhadap setiap percikan konflik di kawasan.
Padahal secara normal, sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melintas melalui selat ini. Selain minyak mentah, jalur yang sama juga menjadi lintasan penting bagi pengiriman gas alam cair dan berbagai komoditas strategis lainnya.
Ketika arteri energi dunia tersendat, pasar bereaksi cepat. Harga minyak melonjak hingga melampaui 100 dolar AS per barel. Lonjakan itu bukan hanya dipicu oleh penutupan Selat Hormuz, tetapi juga oleh gangguan produksi minyak di kawasan Timur Tengah yang ikut terdampak konflik.
Di sisi lain, Washington tidak tinggal diam. Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras kepada Teheran. Ia menyatakan bahwa negaranya siap menyerang Iran dengan kekuatan “puluhan kali lebih besar” jika blokade terhadap jalur minyak tersebut terus berlanjut.
Namun Teheran tampaknya belum berniat mundur. Juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, menegaskan bahwa militer Iran tidak akan membiarkan satu tetes pun minyak dari kawasan itu mengalir ke negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau sekutu mereka selama perang masih berlangsung.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










