Ia menyebut setiap kemungkinan perubahan kebijakan sepenuhnya bergantung pada dinamika konflik yang sedang berjalan.
Dengan posisi seperti itu, Selat Hormuz kini bukan sekadar jalur laut strategis, melainkan panggung baru bagi perang saraf global. Satu pihak menekan dengan sanksi dan ancaman militer, sementara pihak lain membalas dengan menutup keran energi dunia.
Di tengah tarik-menarik kekuatan tersebut, kapal-kapal dagang hanya bisa menunggu sementara dunia kembali diingatkan bahwa stabilitas ekonomi global sering kali bergantung pada sepotong selat yang lebarnya bahkan tidak sampai puluhan kilometer.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










