Serangan tambahan juga diarahkan pada fasilitas energi Israel di Haifa, termasuk instalasi minyak dan tangki penyimpanan bahan bakar. Langkah tersebut diklaim sebagai respons terhadap serangan sebelumnya yang menghantam fasilitas energi Iran.
Tidak hanya Israel yang menjadi sasaran. Pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Kurdistan Irak, termasuk fasilitas di Harir Air Base, dilaporkan menjadi target lima rudal balistik dalam serangan yang sama.
Di tengah eskalasi tersebut, komandan angkatan udara IRGC, Majid Mousavi, menyatakan bahwa Iran berencana meningkatkan intensitas peluncuran rudal sekaligus memperluas jangkauan serangan. Ia bahkan menyebut bahwa mulai sekarang rudal dengan hulu ledak di bawah satu ton tidak lagi akan digunakan sebuah pernyataan yang terdengar seperti standar baru dalam “kompetisi daya ledak”.
Dalam arsenal Iran, beberapa sistem senjata yang menjadi andalan antara lain rudal balistik Khorramshahr-4 atau Khyber dengan jangkauan sekitar 2.000 kilometer. Senjata ini mampu membawa hulu ledak seberat lebih dari satu ton dan dirancang untuk tetap terarah bahkan saat melintasi fase penerbangan di luar atmosfer.
Selain itu, varian terbaru rudal Emad dan Qadr juga dilaporkan mengalami peningkatan kapasitas hulu ledak hingga lebih dari 1.000 kilogram. Teknologi sayap pengarah yang disematkan pada bagian hulu ledak memungkinkan rudal tersebut bermanuver saat memasuki atmosfer, membuatnya lebih sulit dicegat sistem pertahanan udara.
Baca Juga : Selat Hormuz Ditutup, Trump Menjawab dengan Ancaman “Dua Puluh Kali Lipat”
Sistem lain yang kerap disebut adalah rudal balistik Haj Qassem, yang menggunakan bahan bakar padat dan memiliki jangkauan sekitar 1.400 kilometer. Rudal ini dikembangkan sebagai senjata presisi untuk menghantam target strategis dengan daya rusak yang lebih besar.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










