Konsep ini menggambarkan kecenderungan seseorang meniru gaya hidup kelompok lain yang dianggap lebih sukses atau memiliki status sosial lebih tinggi.
Akibatnya, pola konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, melainkan menjadi sarana untuk menunjukkan status sosial.
Fenomena itu sejalan dengan teori conspicuous consumption yang diperkenalkan oleh Thorstein Veblen. Dalam teori tersebut, konsumsi barang bukan lagi semata-mata untuk fungsi praktis, tetapi juga untuk memamerkan prestise dan kekayaan.
Munculnya Generasi “Kaya Tampilan”
Kombinasi tekanan sosial dan pengaruh media sosial melahirkan fenomena yang kini sering disebut sebagai fake rich middle class atau kelas menengah dengan citra kaya.
Kelompok ini secara kasat mata terlihat mapan. Mereka memiliki gawai terbaru, rutin berlibur, atau sering terlihat di kafe dan pusat perbelanjaan.
Namun di balik citra tersebut, kondisi finansial mereka sering kali rapuh. Tabungan minim, investasi terbatas, dan perlindungan keuangan hampir tidak ada.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran baru. Jika pola ini terus berlangsung, tidak menutup kemungkinan sebagian masyarakat akan menghadapi masa tua tanpa kesiapan finansial yang memadai.
Baca Juga : Kasir Manusia Mulai Deg-degan: Robot di China Sudah Belajar Jaga Toko
Ketika Pendapatan Naik, Gaya Hidup Ikut Naik
Menurut Tanti, fenomena ini juga berkaitan dengan lifestyle inflation. Istilah ini menggambarkan kecenderungan meningkatnya standar hidup seiring bertambahnya pendapatan.
Masalahnya, kenaikan gaya hidup sering kali tidak diimbangi dengan perencanaan keuangan yang matang.
Selain itu, kemudahan akses kredit konsumtif turut mempercepat fenomena tersebut. Kartu kredit, cicilan kendaraan, hingga layanan pay later membuat konsumsi menjadi semakin mudah dilakukan meski sebenarnya belum tentu mampu dibayar dalam jangka panjang.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












