[Locusonline.co] BANDUNG – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Bandung mengeluarkan peringatan dini terkait musim kemarau tahun 2026 di Jawa Barat. Diprediksi, kemarau tahun ini akan datang lebih awal dan berlangsung lebih kering serta lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Kepala BMKG Kelas I Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa analisis dinamika atmosfer dan model prediksi iklim menunjukkan perubahan signifikan.
“Secara umum, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan durasi kemarau berkisar 13 hingga 15 dasarian, bahkan cenderung lebih panjang dari normal,” kata Teguh saat dikonfirmasi, Senin (16/3/2026).
Wilayah yang Lebih Dulu Kering
Awal musim kemarau akan berlangsung bertahap. Berikut rinciannya:
- Maret 2026: Sebagian kecil wilayah Bekasi dan Karawang akan lebih dulu merasakan musim kemarau.
- April 2026: Meluas ke wilayah Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, serta sebagian Cirebon.
- Mei–Juni 2026: Hampir seluruh Jawa Barat, termasuk Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung Raya, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Pangandaran, Majalengka, Kuningan, Ciamis hingga Banjar, akan memasuki musim kemarau.
Secara keseluruhan, 56 persen wilayah Jabar diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026, dan 66 persen wilayah mengalami awal musim kemarau lebih cepat dari rata-rata normal.
Dampak yang Harus Diantisipasi
Yang lebih mengkhawatirkan, 93 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan normal. Selain itu, 81 persen wilayah akan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang.
Beberapa dampak yang perlu diantisipasi sejak dini antara lain:
- Kekeringan meteorologis (kekurangan air di atmosfer).
- Berkurangnya ketersediaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga.
- Gangguan pada sistem irigasi pertanian, yang dapat mengancam produktivitas tanaman.
- Meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Imbauan BMKG: Antisipasi dari Sekarang
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tidak menunggu hingga bencana terjadi. Langkah-langkah antisipasi harus segera dilakukan, seperti:
- Mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air (waduk, embung, sumur resapan).
- Menyesuaikan kalender tanam di sektor pertanian untuk menghindari gagal panen.
- Meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
- Melakukan sosialisasi hemat air kepada masyarakat luas.
Informasi prediksi musim ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai alat untuk merencanakan mitigasi. Dengan mengetahui bahwa 93 persen wilayah akan lebih kering dan 81 persen wilayah mengalami kemarau lebih panjang, pemerintah dan masyarakat memiliki waktu untuk bersiap. Jangan sampai kita lengah dan baru bergerak ketika krisis sudah terjadi. Siaga sejak dini adalah kunci. (**)














