[Locusonline.co] JAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sepekan terakhir dinilai menjadi momentum bagi investor untuk mempertimbangkan diversifikasi instrumen investasi. Salah satu sektor yang mulai dilirik adalah layanan urun dana atau securities crowdfunding (SCF).
Dalam periode 9–13 Maret 2026, IHSG tercatat mengalami penurunan sebesar 5,91% atau 448 poin ke level 7.137,21. Penurunan ini menjadi salah satu yang terdalam di kawasan Asia Tenggara pada periode tersebut .
Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi, menilai tekanan terhadap pasar saham domestik dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik.
"Kombinasi geopolitical contagion di Selat Hormuz, revisi outlook Fitch menjadi negatif, serta tekanan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp17.000 per dolar AS akan menguji stabilitas makroekonomi," ujarnya .
SCF: Alternatif Investasi di Tengah Volatilitas
Di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, pemerintah sebelumnya juga mendorong masyarakat untuk tetap berinvestasi dengan menyisihkan sekitar 10%–20% dari tunjangan hari raya (THR) dan bonus hari raya (BHR) . Namun, volatilitas pasar saham membuat sebagian investor mulai melirik instrumen alternatif, salah satunya securities crowdfunding.
Industri SCF dinilai menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Ketua Umum Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI) periode 2026–2029, Patrick Gunadi, menyebutkan bahwa pertumbuhan industri ini terjadi secara eksponensial.
"Pertumbuhan industri SCF yang terjadi selama kurun waktu 2023 sampai 2026 adalah eksponensial dan bukan linear, yang menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi, terutama kepada aset sukuk," katanya .