Peran warga ini seolah menjadi pembuktian bahwa di tengah kecanggihan algoritma, insting manusia masih lebih paham mana jalan dan mana sawah.
Pihak PT Jasamarga Jogja Solo memastikan bahwa rambu penunjuk arah menuju Gerbang Tol Purwomartani sebenarnya sudah dipasang di sejumlah titik. Bahkan petugas juga disiagakan di lapangan.
Namun, rupanya suara navigasi digital lebih dipercaya dibanding papan petunjuk nyata.
Menurut Humas JMJ, Rachmat, para pemudik yang nyasar ke jalan kampung memang mengikuti arahan aplikasi.
“Mereka diarahkan lewat jalan kecil oleh Google Maps untuk menuju gerbang tol,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi ironi tahunan: di saat teknologi semakin pintar, manusia justru semakin patuh tanpa verifikasi. Jalan pintas yang dijanjikan berubah jadi jalur tersesat massal.
Dan di Tamanmartani hari itu, satu pelajaran penting kembali terkonfirmasi tidak semua yang “terlihat cepat” benar-benar membawa kita sampai tujuan. Terutama jika jalannya ternyata sawah.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










