Bisnis

Harga Emas Dunia Anjlok 11 Persen, Terburuk Sejak 1983 di Tengah Perang AS-Israel vs Iran

rakyatdemokrasi
×

Harga Emas Dunia Anjlok 11 Persen, Terburuk Sejak 1983 di Tengah Perang AS-Israel vs Iran

Sebarkan artikel ini
Harga Emas Dunia Anjlok 11 Persen, Terburuk Sejak 1983 di Tengah Perang AS Israel vs Iran locusonline featured image Mar 2026

[Locusonline.co] JAKARTAHarga emas dunia mengalami kejatuhan dramatis di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik imbas perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran. Sepanjang perdagangan sepekan terakhir, harga emas mencatat pelemahan terburuk dalam lebih dari empat dekade.

Berdasarkan laporan CNN, harga emas dunia turun 11% dalam sepekan terakhir, menjadikannya kerugian mingguan terbesar sejak tahun 1983. Sementara jika dihitung sejak dimulainya konflik antara AS dan Iran, harga emas dunia telah merosot lebih dari 14% .

tempat.co

Paradoks: Emas Seharusnya Menguat di Tengah Ketidakpastian

Dalam teori investasi, emas dikenal sebagai aset safe haven (tempat berlindung aman) yang biasanya menguat saat terjadi ketegangan geopolitik, inflasi melonjak, atau mata uang jatuh. Lantas, mengapa kali ini emas justru melemah?

Jawabannya terletak pada dinamika kebijakan suku bunga dan penguatan dolar AS yang terjadi sebagai respons terhadap konflik tersebut.

Penyebab Utama Kejatuhan Emas

1. Ekspektasi Suku Bunga The Fed Tetap Tinggi

Kenaikan harga energi akibat perang di Timur Tengah mendorong bank sentral global, termasuk The Fed, untuk mempertimbangkan kembali prospek suku bunga. Pelaku pasar kini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil tahun ini, tanpa penurunan lebih lanjut.

Berdasarkan data CME FedWatch, para pelaku pasar memproyeksikan tidak akan ada pemotongan suku bunga pada tahun 2026. Pada pertemuan FOMC sebelumnya, The Fed memang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan.

Kondisi ini berbeda dengan periode sebelumnya, ketika harga emas sempat naik saat The Fed memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut. Suku bunga yang tinggi membuat imbal hasil obligasi (yield) menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.

“Saya rasa dalam penurunan harga emas baru-baru ini, imbal hasil yang lebih tinggi memainkan peran besar,” kata Ekonom Fundstrat, Hardika Singh, dikutip dari CNN, Senin (23/3/2026) .

2. Penguatan Dolar AS

Selain faktor suku bunga, dolar AS juga mengalami penguatan. Sejak perang AS dan Iran berlangsung, indeks dolar (DXY) naik hampir 2% . Penguatan dolar ini membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor internasional, karena harga emas umumnya berdenominasi dolar AS.

3. Meredanya Euforia Setelah Reli Panjang

Harga emas dunia sempat mencatat kenaikan spektakuler, yakni rekor tertinggi sejak 1979 dengan lonjakan 64% pada tahun 2025. Logam mulia ini bahkan menembus level US$5.000 per troy ons untuk pertama kalinya pada Januari 2026. Namun, euforia ini kini mulai mereda, dan investor melakukan aksi ambil untung (profit taking).

4. Likuidasi untuk Menutup Kerugian Aset Lain

Dalam situasi pasar yang bergejolak, investor juga mungkin menjual emas untuk menutupi kerugian yang terjadi pada aset-aset lain di portofolio mereka, mempercepat tekanan penurunan harga emas.

5. Kebijakan Suku Bunga Global

Tidak hanya The Fed, bank sentral di seluruh dunia juga mengubah kebijakan suku bunga imbas perang Iran dan gangguan harga energi. Kekhawatiran tentang inflasi mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tetap atau bahkan menaikkannya, seperti yang dilakukan oleh Reserve Bank of Australia.

Data Pergerakan Harga Emas

PeriodePerubahan Harga Emas
Sepekan terakhir (Maret 2026)-11% (pekan terburuk sejak 1983)
Sejak perang AS-Iran-14%
Puncak tertinggi (Januari 2026)US$5.000/troy ons
Harga terkiniDi bawah US$4.500/troy ons

Analisis dan Prospek

Penurunan tajam harga emas di tengah ketegangan geopolitik menunjukkan bahwa faktor makroekonomi (suku bunga dan nilai tukar) saat ini lebih dominan dibandingkan faktor safe haven. Investor menghadapi dilema: di satu sisi konflik meningkat, namun di sisi lain biaya peluang memegang emas (opportunity cost) menjadi lebih tinggi karena suku bunga yang tetap tinggi dan dolar yang kuat.

Ke depan, pergerakan harga emas akan sangat bergantung pada:

  • Arah kebijakan suku bunga The Fed dan bank sentral global.
  • Perkembangan konflik di Timur Tengah.
  • Pergerakan indeks dolar AS.

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow