LOCUSonline, GARUT – Pemerintah Kabupaten Kabupaten Garut resmi merilis capaian indikator makro tahun 2025. Angkanya tampak rapi, grafiknya naik dan narasinya optimistis, sebuah kombinasi klasik dalam laporan kinerja pemerintah.
Dalam publikasi tersebut, terdapat tiga indikator utama yang disorot: kualitas lingkungan hidup, kontribusi ekonomi daerah, dan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Namun, seperti biasa, di balik angka yang tampak “membaik”, selalu ada ruang untuk bertanya, apa membaik di kertas atau di lapangan?
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Garut tercatat meningkat dari 66,89 pada 2023 menjadi 77,05 pada 2025. Angka ini bahkan melampaui target 2025 yang dipatok di 68,12.
Secara matematis, ini prestasi. Secara realita, publik mungkin masih bertanya: apakah sungai sudah benar-benar jernih, atau hanya datanya yang dibersihkan?
Kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Garut terhadap Jawa Barat juga mengalami kenaikan, dari 2,73 pada 2023 menjadi 2,80 di 2025, melampaui target 2,72.
Kenaikan ini memang positif, meski tipis. Namun di tengah angka tersebut, pertanyaan sederhana tetap relevan, apakah kenaikan ini terasa di kantong masyarakat, atau hanya berhenti di laporan statistik?
Sementara itu, untuk indikator penurunan emisi gas rumah kaca, pemerintah menetapkan target 4,76 pada 2025. Namun, capaian sebelumnya masih tercatat “n/a” alias belum tersedia.
Dengan kata lain, target sudah ada, tapi pijakan datanya belum lengkap. Sebuah kondisi yang sering terjadi rencana sudah melaju, sementara data masih menyusul dari belakang.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










