[Locusonline.co] Washington D.C. – Hanya satu jam setelah pengunduran dirinya diumumkan secara resmi, Kepala Staf Angkatan Darat Amerika Serikat, Jenderal Randy George, melontarkan pernyataan yang mengguncang Pentagon. Dalam sebuah pernyataan yang viral di kalangan elite militer, George berkata:
“Satu orang gila akan memimpin militer AS yang hebat menuju kehancuran…”
Meski tidak menyebut nama secara eksplisit, semua mata langsung tertuju pada Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Presiden Donald Trump—dua tokoh yang disebut-sebut sebagai “orang gila” dalam konflik terbuka antara kepemimpinan sipil dan komando militer profesional.
Detik-Detik Pemecatan di Tengah Perang
Jenderal Randy George, perwira karier dengan pengabdian 42 tahun yang mencakup operasi di Irak dan Afghanistan, diberhentikan secara mendadak pada Kamis (2/4/2026) oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Ia diperintahkan untuk pensiun dengan segera, memotong masa jabatannya yang seharusnya berakhir pada 2027.
Pengumuman itu disampaikan oleh juru bicara Pentagon Sean Parnell melalui pernyataan singkat di media sosial:
“Jenderal Randy A. George akan pensiun dari posisinya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat ke-41, efektif segera. Departemen Pertahanan berterima kasih atas pengabdian puluhan tahun Jenderal George kepada bangsa kita.”
Pemecatan ini terjadi di pekan kelima konflik militer AS melawan Iran . Pasukan Divisi Lintas Udara ke-82 telah dikerahkan ke Timur Tengah, sementara armada Angkatan Laut dan AU terus melancarkan serangan.
Sumber dari Pentagon mengonfirmasi bahwa George menolak perintah untuk mengirim pasukan darat dalam skala besar ke Iran . Penolakan inilah yang menjadi “bom waktu” hubungannya dengan Hegseth .
Pangkal Konflik: Promosi yang Diblokir dan “Pembersihan” Ideologis
Tiga faktor utama memicu pemecatan George :
1. Penolakan Membatalkan Promosi Perwira
Hegseth secara konsisten memblokir promosi empat perwira Angkatan Darat ke pangkat jenderal bintang satu. Dua di antaranya adalah perwira kulit hitam, dua lainnya adalah perwira perempuan .
George dan Menteri Angkatan Darat Dan Driscoll menolak mencoret nama-nama tersebut dari daftar promosi, dengan alasan rekam jejak pengabdian yang teladan . Sekitar dua pekan sebelum pemecatan, George meminta pertemuan dengan Hegseth untuk membahas masalah ini, namun Hegseth menolak bertemu .
2. Keengganan Menjalankan Perintah Perang
George menilai perang darat melawan Iran akan menjadi bencana, berpotensi menyeret AS kembali ke “pusaran konflik panjang” seperti di Irak dan Afghanistan . Ia telah menyampaikan penilaiannya berkali-kali melalui saluran resmi militer, tetapi diabaikan.
3. “Pembersihan” Ideologis Pentagon
Sejak menjabat, Hegseth telah memberhentikan lebih dari selusin perwira tinggi, termasuk Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal CQ Brown, Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Lisa Franchetti, Kepala NSA Jenderal Timothy Haugh, hingga Kepala Dinas Kesehatan dan Perwira Pembinaan Mental .
“Outsider”—begitu Hegseth menyebut dirinya—memandang militer perlu dibersihkan dari perwira yang tidak “setia” pada visi Trump . Seorang pejabat yang tidak mau disebutkan namanya menyebut proses ini sebagai “pembersihan perwira yang dianggap tidak kompatibel secara ideologis” .
Reaksi: “Militer AS dalam Bahaya”
Pernyataan George sontak memicu gelombang reaksi dari kalangan politisi dan analis militer. Kongresman Eugene Vindman menyatakan:
“Jenderal Randy George adalah pelayan publik dan prajurit yang luar biasa. Sungguh mengecewakan melihat pemimpin sekalibernya disingkirkan hanya karena presiden menginginkan ‘orang yang selalu mengiyakan’.”
Dua pejabat pertahanan yang berbicara tanpa menyebut identitas mengungkapkan bahwa pimpinan senior Angkatan Darat mengetahui pemecatan ini bersamaan dengan publik, bukan melalui pemberitahuan internal terlebih dahulu . Ini mencerminkan keretakan yang luar biasa dalam rantai komando.
Krisis Kepemimpinan di Tengah Perang
Di saat negara sedang berperang, mengganti kepala staf angkatan darat secara tiba-tiba tanpa kejelasan alasan merupakan langkah yang sangat tidak biasa . Christopher LaNeve, mantan asisten militer Hegseth, ditunjuk sebagai pelaksana tugas Kepala Staf menggantikan George . Namun, proses konfirmasi Senat untuk pengganti permanen bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Implikasi: Peringatan yang Tidak Bisa Diabaikan
Kata-kata George “satu orang gila akan memimpin militer AS yang hebat menuju kehancuran” bukan sekadar ekspresi kemarahan seorang jenderal yang dipecat. Ini adalah peringatan dari salah satu perwira paling dihormati di Angkatan Darat AS bahwa kepemimpinan sipil saat ini mengabaikan nasihat profesional yang telah teruji dalam pertempuran. (**)













