LOCUSONLINE, GARUT – Saat sebagian pihak mendorong “solusi cepat” dengan peluru dan rudal, tiga kekuatan dunia justru memilih menekan tombol rem. Rusia, China, dan Prancis secara kompak memveto usulan negara-negara Arab di Dewan Keamanan PBB yang ingin melegalkan aksi militer demi membuka Selat Hormuz.
Bahasanya sederhana, dunia lagi tegang, tapi tidak semua sepakat menyelesaikan masalah dengan cara menambah ledakan.
Menurut diplomat dan pejabat senior PBB, negara-negara Arab mengusulkan resolusi yang pada intinya memberi izin penggunaan kekuatan militer untuk menjamin kelancaran jalur perdagangan global, khususnya di Selat Hormuz sebuah jalur vital yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dunia. Namun, usulan itu kandas sebelum sempat “berlayar”.
Rusia, China, dan Prancis menolak mentah-mentah bahasa yang membuka pintu perang. Alasan mereka terdengar klasik tapi tajam, menolak legalisasi penggunaan kekuatan militer dalam konflik yang sudah panas.
Di balik veto itu, tersirat pesan satir yang sulit diabaikan, dunia mungkin sedang krisis energi, tapi bukan berarti solusi harus berupa perang besar-besaran.
Namun di sisi lain, Amerika Serikat dan Israel tampak belum tertarik menginjak rem. Keduanya tetap melanjutkan operasi militer terhadap Iran, bahkan menolak seruan gencatan senjata. Alih-alih diplomasi, pendekatan yang dipilih masih berkutat pada tekanan militer.
Presiden AS Donald Trump bahkan sesumbar bahwa negaranya bisa “dengan mudah” membuka Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, ia menggambarkan potensi banjir minyak global jika jalur itu dikuasai.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










