[Locusonline.co] Bandung – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung, Jawa Barat, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena cuaca ekstrem yang kerap terjadi saat periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau (pancaroba).
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa periode peralihan ini ditandai dengan melemahnya angin baratan dan mulai masuknya angin timuran, kondisi yang memicu ketidakstabilan atmosfer.
“Fenomena ini biasanya diawali dengan cuaca panas dan gerah, kemudian terjadi hujan lebat secara tiba-tiba disertai petir dan angin kencang,” ujar Teguh di Bandung, Senin (6/4/2026).
Potensi Awan Cumulonimbus dan Hujan Es
Teguh mengatakan kondisi ketidakstabilan atmosfer menyebabkan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang cukup masif. Awan jenis ini berpotensi menimbulkan hujan lebat, petir, dan angin kencang dalam durasi singkat namun intensitas tinggi.
BMKG mencatat pada Jumat (3/4/2026) , hujan es terjadi di sebagian wilayah Bandung akibat pembentukan awan Cumulonimbus sejak pukul 12.00 WIB. Kecepatan angin saat kejadian tercatat mencapai 42,6 km/jam dan menyebabkan dampak signifikan, seperti pohon tumbang di sejumlah titik di wilayah Bandung Raya.Fenomena Detail Hujan es Terjadi di sebagian wilayah Bandung, 3 April 2026 Kecepatan angin Mencapai 42,6 km/jam Dampak Pohon tumbang di sejumlah titik Bandung Raya
Proses Terjadinya Hujan Es
BMKG menjelaskan bahwa hujan es terbentuk dari uap air yang terbawa arus udara naik (updraft) ke puncak awan dengan suhu sangat dingin hingga membeku. Butiran es kemudian jatuh ke permukaan saat arus udara melemah.
Fenomena ini umum terjadi pada masa pancaroba dan tidak selalu menandakan adanya anomali cuaca yang lebih serius, namun tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kerusakan.
Imbauan BMKG untuk Masyarakat
Teguh mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti:Bencana Keterangan Banjir Terutama di daerah aliran sungai dan pemukiman rendah Longsor Di wilayah perbukitan dan lereng curam Angin kencang Dapat merobohkan pohon, baliho, dan bangunan tidak kokoh Hujan es Dapat merusak tanaman dan properti
Selain itu, BMKG meminta warga untuk menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang berisiko saat cuaca ekstrem terjadi.
“Kami juga meminta warga untuk menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang berisiko saat cuaca ekstrem terjadi,” kata Teguh Rahayu.
Wilayah Rawan dan Waktu Rawan
BMKG mengidentifikasi bahwa cuaca ekstrem di masa pancaroba sering terjadi pada:Aspek Keterangan Waktu Siang hingga sore hari (setelah cuaca panas dan gerah) Wilayah rawan Bandung Raya, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Cimahi, dan sekitarnya
Masyarakat diimbau untuk segera mencari tempat aman jika melihat tanda-tanda awan hitam tebal yang menjulang tinggi (awan Cumulonimbus) di sekitar wilayahnya.
Langkah Antisipasi untuk Masyarakat
| Langkah | Keterangan |
|---|---|
| Pantau info BMKG | Ikuti perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG |
| Hindari pohon besar | Risiko pohon tumbang tinggi saat angin kencang |
| Periksa drainase | Pastikan saluran air tidak tersumbat untuk mencegah banjir |
| Siapkan perlengkapan darurat | Bawa payung, jas hujan, dan dokumen penting jika bepergian |
Informasi Lebih Lanjut
Masyarakat dapat mengakses informasi cuaca terkini melalui:Platform Akses Website www.bmkg.go.id Aplikasi Info BMKG (Play Store/App Store) Media Sosial @info.bmkg (Instagram, X/Twitter, Facebook)














