Di titik ini, logika seorang siswa justru terasa lebih “tajam” dibanding rumusan kebijakan yang berlapis-lapis.
Menurut Ubaid Matraji, fenomena ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa kebijakan MBG belum menyentuh akar persoalan pendidikan, terutama nasib guru honorer yang masih menerima upah di bawah standar.
Ia juga mengapresiasi keberanian Rafif yang dinilai menunjukkan empati dan solidaritas.
“Ini pelajaran karakter yang sesungguhnya,” katanya.
Satirnya, pelajaran karakter itu justru datang dari siswa, bukan dari kurikulum.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Prasetyo Hadi maupun Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana terkait surat tersebut.
Diamnya respons ini menambah lapisan ironi: ketika kritik datang dengan sopan dan penuh empati, justru tidak segera mendapat jawaban.
Program MBG mungkin dirancang untuk mencerdaskan generasi bangsa. Namun kasus ini menunjukkan, sebagian siswa sudah cukup cerdas untuk mempertanyakan prioritas.
Pada akhirnya, kisah Rafif bukan sekadar tentang menolak makan gratis. Ini tentang bagaimana seorang pelajar melihat realitas pendidikan dengan lebih jernih bahwa sebelum bicara soal gizi siswa, mungkin ada baiknya memastikan guru mereka tidak “lapar” terlebih dahulu.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










