Pernyataan tersebut turut memancing reaksi dari Hasan Nasbi yang menyampaikan kritik keras. Ia menyayangkan narasi yang dianggap melampaui batas, apalagi datang dari kalangan yang selama ini mengklaim sebagai penjaga nilai demokrasi.
Hasan menilai, sebagian pihak tampak nyaman dengan demokrasi hanya ketika hasilnya sesuai harapan mereka. Ketika tidak, istilah “jatuhkan” tiba-tiba terdengar lebih menggoda daripada “evaluasi”.
“Yang bicara ingin menjatuhkan presiden itu profesor ilmu politik,” ujarnya, menyiratkan ironi akademik di tengah panggung politik.
Perdebatan ini kembali menunjukkan satu hal, di negeri yang mengaku demokratis, tafsir tentang demokrasi bisa sama beragamnya dengan komentar di media sosial. Bedanya, yang satu bisa diabaikan, yang lain bisa berujung polemik nasional.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










